Suara.com - Pada Rabu, 17 Agustus 2021, Kementerian Kesehatan atau Kemenkes RI resmi menurunkan batas atas harga tertinggi tes PCR (polymerase chain reaction) untuk Covid-19 menjadi Rp 495 ribu di Jawa-Bali, dan Rp 525 ribu di luar Jawa-Bali.
Ini artinya, harga tes PCR turun nyaris setengah harga atau 50 persen dari batasan harga tertinggi sebelumnya, yang mencapai Rp 900 ribu pada 5 Oktober 2020.
Tidak sedikit yang menjadi penasaran, mengapa harga tes PCR untuk Covid-19 sebelumnya sangat mahal?
Menjawab jawab hal ini, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, Prof. Abdul Kadir menerangkan jika harga tes PCR sebelumnya terbilang sangat mahal karena keterbatasan jumlah reagen untuk diagnosis Covid-19.
Bahkan, kata Prof. Kadir, saat itu Indonesia masih harus bersaing dengan beberapa negara untuk mendapatkan reagen pemeriksaan Covid-19.
"Jadi pada tahap awal memang harga naik, yang kita beli itu kebanyakan harganya masih tinggi, sehingga kita tetap mengacu pada harga tersebut," ujar Prof. Kadir saat konferensi pers beberapa waktu lalu.
Prof. Kadir melanjutkan, bukan hanya harga reagen yang masih melambung tinggi, ketersediaan alat medis habis pakai seperti sarung tangan, masker, hazmat, dan lain-lain untuk pemeriksaan sampel sangat mahal dan langka.
Ditambah terbatasnya SDM atau pekerja laboratorium yang mampu melakukan tes PCR dengan fasilitas laboratorium Biosafety Level atau BSL 3 juga masih sedikit, membuat harga diagnostik Covid-19 sangat mahal, bahkan lebih dari Rp1 juta.
Namun saat ini, karena semakin banyak negara yang memproduksi reagen dan alat medis habis pakai sendiri, termasuk Indonesia yang mampu memproduksi masker, alat pelindung diri (APD) berupa hazmat, dan melatih SDM yang mampu melakukan pemeriksaan dengan fasilitas laboratorium BSL 3, maka harga tes PCR bisa ditekan atau diturunkan.
Baca Juga: Kimia Farma Pastikan Sudah Terapkan Harga Tes PCR Rp 495.000 di Seluruh Klinik
"Ini disebabkan oleh karena adanya penurunan dari harga reagen dan bahan baku habis pakai, maka didapatkan harga yang paling tinggi saat ini adalah Rp 495 ribu (untuk pulau Jawa-Bali)," tutur Prof. Kadir.
Meski begitu, kata Prof. Kadir, tidak menutup kemungkinan jika harga tertinggi tes PCR ini akan dievaluasi di kemudian hari, apabila harga reagen dan komponen tes lainnya bisa ditekan sehingga harga jadi lebih murah.
"Bahwa evaluasi batas tarif tertinggi pemeriksaan PCR ini akan ditinjau ulang secara berkala sesuai kebutuhan. Tidak menutup kemungkinan pada saatnya nanti ada evaluasi ulang dan harganya bisa lebih turun kembali," pungkas Prof. Kadir.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang