Health / Konsultasi
Kamis, 09 September 2021 | 10:34 WIB
Ilustrasi Olahraga. (freepik)

Suara.com - Porsi olahraga antara orang awam dengan atlet tentu sangat berbeda. Ini lantaran bertujuan untuk meraih prestasi, tak heran porsi olahraga pada atlet berkali lipat lebih banyak.

Meski begitu, atlet juga tetap punya risiko kegemukan walaupun setiap hari aktivitasnya terus menguras kalori.

Dokter spesialis keolahragaan dr. Michael Triangto, Sp.KO., menjelaskan bahwa semakin berat latihan seorang atlet maka jumlah porsi makan yang dibutuhkannya juga akan lebih banyak.

"Tentu saja (atlet risiko kegemukan). Orang lapar, makan. Makan, punya tenaga, kemudian dia berolahraga berarti makanan itu dicerna dan dibakar lagi, (energi) habis lapar lagi, ya makan lagi. Dia latihan lebih berat kemudian habis lagi, makan lebih banyak lagi. Apa jadi engga gemuk," kata dokter Michael saat dihubungi suara.com, Rabu (8/9/2021).

Ia menambahkan, porsi makan atlet juga rata-rata dua hingga tiga kali lebih banyak dari orang awam. 

"Biasanya kita harapkan 4.000 sampai 6.000 kilo kalori. Tapi itu disesuaikan, enggak ke semuanya. Misalnya atlet muda. Pada beberapa atlet memang dipaksakan harus banyak, karena harus mengonsumsi dalam protein banyak supaya ototnya jadi," ucapnya.

"Tapi ada juga atlet yang harus dijaga makannya, misalnya atlet cabang senam, cabang balet. Setiap cabang olahraga berbeda, karena itu kita gak bisa dipukul rata. Tergantung dari kondisi yang dibutuhkan," imbuh dokter Michael.

Oleh sebab itu, salah satu peran dokter olahraga harus memastikan pola makan atlet sesuai kebutuhan juga nutrisi yang dikonsumsinya harus baik. Keharusan makan dengan porsi banyak itu lah yang bisa jadi bumerang bagi atlet berisiko alami kegemukan.

"Kalau engga dikontrol nutrisinya, makanannya banyak yang goreng-goreng, banyak lemak, minumannya gulanya terlalu banyak, apa pun kebanyaka gak bagus," ujarnya.

Baca Juga: Link Twibbon Haornas 2021, Yuk Buat dan Pasang di Medsos!

Load More