Health / konsultasi
Rima Sekarani Imamun Nissa | Shevinna Putti Anggraeni
Ilustrasi virus Corona Covid-19, varian Delta. (Dok. Envato)

Suara.com - Tingkat penularan varian Delta yang tinggi membuatnya mendominasi di seluruh dunia. Ahli virologi memperingatkan bahwa varian virus corona Covid-19 tersebut setidaknya 50 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha.

Apalagi, varian Delta ini juga dikhawatirkan membuat kekebalan dari vaksin Covid-19 tidak manjur. Para ilmuwan telah menyoroti beberapa pola perilaku utama dari varian virus corona tersebut.

Para peneliti telah menemukan bahwa varian Delta kurang sensitif terhadap antibodi dalam darah orang yang sudah vaksinasi atau pernah terinfeksi virus corona Covid-19 sebelumnya.

Studi yang dipublikasikan di Nature, juga menemukan varian Delta lebih mudah bereplikasi dan lebih baik dalam menembus sel-sel dari saluran pernapasan.

Baca Juga: Ahli Epidemiologi: Varian Mu Belum Mengkhawatirkan, Varia Delta Lebih Berbahaya

Para peneliti percaya hal itulah yang membuat varian Delta ini lebih cepat menyebar menjadi varian yang dominan di berbagai wilayah di dunia.

Ilustrasi virus corona Covid-19, varian Delta (Pixabay/mohamed_hassan)

Temuan ini menambah bukti penelitian sebelumnya yang menemukan varian Delta bisa melipatgandakan risiko rawat inap pada orang yang belum vaksinasi.

Antibodi adalah protein berbentuk Y yang disekresikan oleh tubuh sebagai bagian dari respons imun terhadap infeksi. Antobodi ini sangat penting untuk menghilangkan molekul penyebab penyakit dari tubuh, baik dengan menghancurkan atau menghalangi virus menginfeksi sel lain.

Setelah vaksinasi, sel kekebalan yang memproduksi akan tetap berada di dalam tubuh sebagai sel memori untuk memberikan kekebalan terhadap serangan virus di masa mendatang.

Jika nanti tubuh bertemu mikroba yang sama, respons imun akan lebih cepat untuk melawan dan menjinakkan infeksi tersebut.

Baca Juga: WHO Tetapkan Varian Mu sebagai Varian Menarik, Ini Gejalanya!

Dalam studi terbaru, para peneliti juga menganalisis perilaku virus di 'organ mini' yang ditanam di laboratorium menggunakan sel yang diambil dari saluran udara manusia.

Tim mengamati bahwa jumlah paku yang lebih tinggi pada partikel varian Delta memungkinkan virus untuk lebih efektif mengganggu sel dan mereplikasi di dalamnya.

"Kami sangat perlu mempertimbangkan cara untuk meningkatkan respons vaksin Covid-19 terhadap varian virus corona di antara petugas layanan kesehatan. Studi ini juga menyarankan langkah-langkah pengendalian infeksi perlu dilanjutkan di era pasca-vaksin," kata penulis studi Anurag Agrawal dari CSIR Institute of Genomic and Integrative Biology di India, dikutip dari Express.

Fran├žois Balloux, direktur Institut Genetika UCL, mengatakan kemungkinan suntikan penguat vaksin Covid-19 akan diberikan ke semua orang tanpa memandang usia.

Karenanya, Paul Hunter, profesor kedokteran di University of East Anglia, mengatakan vaksin Covid-19 saja tidak memberikan perlindungan jangka Panjang terhadap infeksi virus corona Covid-19.

"Tetapi seseorang yang telah vaksinasi dan memiliki infeksi alami akan memiliki perlindungan yang lebih tinggi dan lebih tahan lama. Bahkan mereka cenderung tidak mengalami infeksi parah ketika tertular," jelasnya.

Komentar