Suara.com - Paparan polusi udara selama kehamilan bisa berefek pada kesehatan jangka panjang anak. Hal ini dinyatakan dalam penelitian yang terbit pada Nature's Environmental Health and Preventive Medicine.
Melansir dari Medical Xpress, materi partikulat (PM) merupakan komponen utama polusi udara yang semakin dikaitkan dengan konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan dan perkembangan anak. Dalam penelitian ini, Natalie Johnson, Ph.D., profesor di Texas A&M University School of Public Health dan rekan penulisnya mensintesis temuan studi, ulasan, dan meta-analisis sebelumnya.
Mereka menganalisis efek kesehatan yang merugikan dari dua jenis partikel terkecil (PM) halus (partikel dengan diameter aerodinamis kurang dari 2,5 m) dan ultrahalus (partikel dengan diameter aerodinamis kurang dari 1 m).
Kedua jenis PM dapat terhirup jauh ke dalam paru-paru. Partikel ini telah terbukti menyeberang ke dalam sirkulasi dan bahkan melintasi penghalang plasenta, langsung mencapai janin yang sedang berkembang.
Berbagai hasil kesehatan yang merugikan terkait dengan paparan PM halus telah dilaporkan. Beberapa hasil kesehatan termasuk berat badan lahir rendah, asma dan kondisi pernapasan kronis lainnya, masalah kognitif dan perilaku, obesitas dan diabetes.
Penelitian tentang efek paparan PM ultra halus prenatal belum begitu luas, tetapi semakin banyak bukti menunjukkan kesamaan dengan efek yang terkait dengan paparan PM halus.
PM ultra halus melintasi plasenta dan memasuki sirkulasi janin dan secara tidak langsung PM menyebabkan interaksi yang mengakibatkan stres oksidatif, peradangan, perubahan epigenetik, dan gangguan endokrin.
Para peneliti juga meninjau kemungkinan perawatan dan kebijakan yang mungkin meminimalkan atau bahkan membatalkan bahaya yang terkait dengan paparan PM sebelum melahirkan. Ruang hijau seperti taman dan area lain dengan pepohonan kemungkinan memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat agar paparan PM lebih rendah.
"Penting untuk meninjau kumpulan literatur tentang paparan lingkungan, ini membantu dalam pengembangan kebijakan dan strategi intervensi. Waktu paparan seperti selama kehamilan diakui sebagai jendela kerentanan yang penting. Jadi, melindungi yang paling rentan dapat memiliki dampak kesehatan masyarakat yang besar," kata Johnson.
Baca Juga: Duh, Polusi Udara Bikin Angka Harapan Hidup Orang Indonesia Makin Berkurang
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?
-
Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya
-
Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak
-
Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya
-
Etawanesia dan Etawalin: Rekomendasi Susu Kambing Etawa Unggulan, Paling Diminati 2 Tahun Terakhir
-
Jangan Anggap Sepele Payudara Nyeri Saat Menyusui, Mastitis Bisa Berujung Operasi Abses
-
Mengenal Rontgen Gigi 3D: Teknologi yang Bantu Diagnosis Lebih Akurat dan Cepat
-
World Milk Day 2026: Perjalanan Peternak Menjaga Kualitas Nutrisi Segelas Susu