Suara.com - Banyak pasien virus corona Covid-19 menderita parah, karena memiliki penyakit komorbid. Tapi, sekarang ini vaksin Covid-19 telah terbukti menjadi perisai yang efektif mencegah pasien mengalami infeksi parah ketika terinfeksi virus corona.
Karena, masalah utama yang membuat pasien virus corona Covid-19 menderita parah hingga membutuhkan perawatan medis di rumah sakit dalam beberapa bulan adalah antibodi yang kurang.
Sebuah studi menemukan bahwa autoantibodi sebagai protein yang menyerang diri sendiri merupakan bagian dari organ, pertahanan kekebalan atau pensinyalan penting. Kondisi ini pun terjadi pada banyak pasien Covid-19 yang berjuang melawan infeksi parah.
Studi baru menunjukkan bahwa sekitar setengah dari pasien virus corona Covid-19 di rumah sakit mengembangkan protein sistem kekebalan berbahaya yang menyerang jaringan tubuhnya sendiri.
Para peneliti mempelajari sampel darah dari hampir 200 pasien yang dirawat di rumah sakit pada awal pandemi virus corona Covid-19. Para peneliti mengidentifikasi sinyal dalam sampel darah pasien yang serupa dengan pasien autoimun lainnya, termasuk lupus, penyakit tiroid, dan radang sendi.
Mereka juga menemukan bahwa pasien ini memiliki konsentrasi autoantibodi yang tinggi, antibodi yang secara keliru menyerang jaringan dan organ tubuh seseorang.
Reaksi ini biasanya terjadi ketika sistem kekebalan tubuh tidak bisa membedakan antara sel asing dan selnya sendiri. Para peneliti mengatakan autoantibodi ini bisa menyebabkan komplikasi lebih lanjut setelah pemulihan.
"Jika Anda terinfeksi parah akibat virus corona Covid-19 hingga menjalani perawatan medis di rumah sakit, Anda mungkin tidak akan langsung segar dan bugas untuk menjalani keseharian setelah pulih," kata Dokter PJ Utz, profesor imunologi di Stanford dikutip dari Express.
Tim peneliti menemukan bahwa lebih dari setengah pasien Covid-19 memiliki setidaknya 1 jenis autoantibodi dalam sampel darah mereka.
Baca Juga: Peneliti: Anak-Anak Berisiko Kecil Alami Kerusakan Paru Akibat Virus Corona Covid-19
"Dalam seminggu setelah masuk rumah sakit, sekitar 20 persen dari pasien tersebut telah mengembangkan autoantibodi baru untuk jaringan mereka sendiri yang tidak ada ketika mereka pertama kali dirawat di rumah sakit," kata Dokter PJ Utz.
Dalam banyak kasus, tingkat autoantibodi ini mirip dengan pasien penyakit autoimun yang terdiagnosis. Ada kemungkinan selama infeksi virus corona Covid-19 tidak terkontrol ketika virus bertahan terlalu lama dan respons imun semakin intensif terus memecah partikel virus corona menjadi berkeping-keping. Saat itulah sistem kekebalan bisa mendeteksi virus yang sebelumnya tidak terlihat.
Temuan ini mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen pasien virus corona Covid-19 memiliki autoantibodi yang dikenal sebagai antibodi anti-sitokin. Seperempat pasien lainnya memiliki antibodi anti-nuklir, yang juga sering dikaitkan dengan penyakit autoimun.
"Jika Anda belum pernah vaksinasi, kebanyakan orang yang terkena virus corona bisa mengatasinya dan baik-baik saja. Tapi, Anda juga tidak bisa memprediksi hal itu. Jadi, Ingatlah bahwa virus bisa menyebabkan autoimunitas," jelasnya.
Para ilmuwan berencana untuk menyelidiki lebih lanjut hubungan antara autoimunitas dan infeksi virus corona Covid-19 parah. Studi ini menambah sederet bukti yang menunjukkan hubungan antara karakteristik infeksi virus corona yang parah dan penyakit autoimun.
Tahun lalu, sebuah penelitian yang dipimpin oleh Universitas Yale menemukan bahwa pasien virus corona Covid-19 memiliki sejumlah besar autoantibodi yang menargetkan jaringan. Tes yang dilakukan selama penelitian menemukan bahwa semakin tinggi prevalensi autoantibodi ini, semakin parah infeksinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
-
QRIS Jadi 'Alat Bantu' Judi Online: Mengapa Sistem Pembayaran BI Ini Rentan Disalahgunakan?
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya