Suara.com - Perut kembung terjadi karena saluran pencernaan yang membentang dari mulut ke anus penuh dengan udara atau gas. Kondisi ini pasti sangat tidak nyaman, karena perut memiliki sensasi penuh dan sesak.
Jika Anda mengalami gejala kembung, termasuk sakit perut dan gas, kondisi itu mungkin mengarah pada masalah kesehatan yang disebut intoleransi laktosa.
Intoleransi laktosa adalah masalah pencernaan ketika tubuh tidak bisa mencerna gula yang disebut sebagai laktosa, yang biasanya ditemukan dalam produk susu. Jangan berharap gejala intoleransi laktosa muncul setelah Anda mengonsumsi produk susu.
Sebaliknya, NHS menjelaskan bahwa gejala biasanya berkembang dalam beberapa jam setelah mengonsumsi produk susu. Adapun gejala intoleransi laktosa, termasuk:
- Kentut
- Diare
- Perut kembung
- Kram perut dan nyeri
- Perut keroncongan
- Rasa sakit
Tingkat keparahan intoleransi laktosa biasanya menggambarkan jumlah produk susu yang dikonsumsi. Selain itu, beberapa orang mungkin dapat minum teh atau kopi susu tanpa mengalami gejala intoleransi laktosa.
Sementara itu, orang lain yang lebih sensitif terhadap laktosa mungkin menderita setelah beberapa teguk susu panas. Anda bisa membedakan intoleransi laktosa atau tidak dengan menghindari makanan dan minuman yang banyak mengandung laktosa selama 2 minggu.
Penyebab Intoleransi Laktosa
Pada orang dengan intoleransi laktosa, tubuh tidak memiliki pasokan lactase yang cukup untuk mencerna laktosa. Padahal lactase berfungsi memecah laktosa menjadi dua gula, yakni glukosa dan galaktosa yang bisa diserap ke dalam aliran darah.
Tanpa pasokan laktase yang cukup, laktosa tetap berada dalam sistem pencernaan, tempat fermentasi bakteri. Hal ini menyebabkan produksi gas, yang mengakibatkan gejala yang berhubungan dengan intoleransi laktosa.
Baca Juga: Tak Selalu Lebih Berbahaya, Ternyata Ini 3 Efek yang Terjadi Jika Virus Corona Bermutasi
Meskipun kondisi ini dapat berkembang pada usia berapa pun, banyak kasus intoleransi laktosa yang berkembang pada orang usia 20 hingga 40 tahun.
Perawatan medis untuk menghindari produk laktosa, yang sekarang lebih mudah dilakukan adalah dengan mempromosikan produk bebas laktosa di rak supermarket.
Intoleransi laktosa yang berkembang di masa dewasa dapat disebut sebagai defisiensi laktase sekunder. Penyebabnya termasuk antibiotik yang lama, kemoterapi, atau kondisi kesehatan lainnya.
Misalnya, defisiensi laktase dapat terjadi karena colitis ulseratif, penyakit Crohn, penyakit seliaka, dan gastroenteritis. Selain itu, kemampuan alami tubuh untuk memproduksi laktase berkurang seiring bertambahnya usia.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga