Suara.com - Sejak Maret hingga Juli 2021 ini Amerika Serikat mencatat adanya empat kasus infeksi melioidosis yang tersebar di empat negara bagian. Dua kasus di antaranya menyebabkan kematian hingga memicu perhatian nasional.
Livescience melansir melioidosis adalah infeksi bakteri Burkholderia pseudomallei. Jenis bakteri yang hidup di tanah dan air di daerah tropis serta sub tropis.
Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan berbagai gejala, mulai dari borok kulit hingga abses pada banyak organ. Bahkan, ada yang dapat menyebabkan pneumonia.
Namun, beberapa kasus tidak menunjukkan gejala, sehingga orang yang terinfeksi bisa saja tidak menyadari bahwa mereka telah terkena bakteri.
Seseorang dapat terinfeksi ketika melakukan kontak langsung dengan bakteri B. pseudomallei. Ada juga kemungkinan tertular dengan menghirupnya.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan kemungkinan cara penularannya dengan:
- Menghirup tetesan air yang terkontaminasi atau serpihan debu
- Menelan tetesan air yang terkontaminasi
- Makan makanan yang ditanam di tanah yang terkontaminasi
- Kontak dengan luka terbuka di kulit
Penularan juga dapat terjadi antar orang melalui kontak darah atau cairan tubuh, tetapi ini jarang terjadi.
Jurnal Nature Microbiology mencatat terdapat 165 ribu kasus melioidosis setiap tahunnya. Sebagian besar kasus tersebut terjadi di Asia Tenggara serta Australia bagian utara.
Sebaliknya, di Amerika Serikat kasus ini sangat jarang terjadi. Empat kasus melioidosis ini pun masih menjadi misteri. CDC hingga kini masih melakukan penyelidikan terkait asal usul infeksi dan metode penularannya.
Baca Juga: Mengenal Chancroid, Penyakit Kelamin yang Disebabkan Bakteri Haemophilus Ducreyi
Penderita melioidosis biasanya akan diberi antibiotik secara intravena selama dua minggu untuk mengobati melioidosis. Apabila pasien masih memerlukan pengobatan tambahan, dokter akan memberikan antiobiotik lagi selama empat hingga enam minggu.
CDC merekomendasikan tiga sampai enam bulan terapi antimikroba oral setelahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh