Health / Konsultasi
Jum'at, 30 Januari 2026 | 13:50 WIB
Ilustrasi Dehidrasi (Freepik/KamranAydinov)
Baca 10 detik
    • Haus, mulut kering, lemas, sakit kepala, kulit kering, dan urine pekat bisa menjadi indikasi tubuh kekurangan cairan.
    • Kurang minum air putih jangka panjang dapat meningkatkan risiko batu ginjal dan kelelahan kronis.
    • Air murni lebih aman dibanding minuman bergula atau berperasa, mampu mengurangi risiko penurunan fungsi ginjal hingga 11%.

Suara.com - Seiring aktivitas harian yang padat, tubuh kita sering kali lupa memberi sinyal bahwa ia membutuhkan cairan. Tanda awalnya bisa sederhana: rasa haus, mulut kering, atau sedikit lemas.

Jika tidak segera diatasi, efek dehidrasi ringan akan semakin terasa setelah tubuh tidak mendapat asupan cairan selama tiga jam atau lebih. Beberapa orang mulai mengalami sakit kepala ringan, mudah lelah, hingga sulit berkonsentrasi.

Kulit terasa lebih kering dan warna urine menjadi lebih pekat—pertanda tubuh kekurangan cairan. Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang minum air putih bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.

Ilustrasi dehidrasi (freepik/marymarkevich)

“Kebiasaan kurang minum air putih dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti batu ginjal akibat penumpukan mineral yang tidak terlarut dengan baik, serta gangguan konsentrasi dan kelelahan kronis, terutama pada pekerja aktif dan lansia,” ujar Dr. Cynthia Natalia, Sp.PD, AIFO-K, mengutip laman Tzu Chi Hospital.

Idealnya, konsumsi air minum dilakukan setiap 1–2 jam untuk mencegah dehidrasi dan dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan. Namun, menjaga pola hidrasi yang baik tidak hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas air yang dikonsumsi.

Sebuah penelitian oleh Bint-E-Zahra, ahli biologi molekuler dari Institute of Molecular Biology dan Biotechnology, Bahauddin Zakariya University, Pakistan, menunjukkan bahwa minuman berperasa dan bergula bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik. Sebaliknya, konsumsi air minum murni lebih aman bagi kesehatan ginjal.

“Konsumsi air minum murni dapat mengurangi risiko penurunan kemampuan kerja ginjal sebesar 11 persen dibandingkan minuman berperasa dan bergula,” ujar Bint-E-Zahra dalam penelitiannya yang diterbitkan di National Journal of Health Sciences pada 2019.

Menjawab kebutuhan ini, Amidis hadir sebagai air minum murni—air demineral yang telah dimasak—dengan standar produksi tinggi. Head of Marketing Amidis, Astrid Adelaide Siregar, menjelaskan bahwa produk ini diproses melalui metode multifiltrasi dan distilasi untuk menghasilkan air yang benar-benar murni dan bebas kontaminan.

“Proses pemanasan hingga 110 derajat Celsius (distilasi) menjadi lapisan keamanan ekstra untuk memastikan kualitas air minum yang aman bagi tubuh dan kesehatan ginjal,” ujarnya.

Baca Juga: Tecno Hadirkan Megabook T14 Air di Indonesia, Laptop AI Ultra-Ringan 999 Gram untuk Mobilitas Tinggi

Selain kualitas, produk ini juga menawarkan kepraktisan bagi keluarga modern melalui galon sekali pakai berukuran 15 liter yang sudah BPA free, sehingga aman dikonsumsi seluruh anggota keluarga tanpa perlu isi ulang.

“Memastikan keluarga Indonesia mendapatkan air minum dengan kualitas terbaik merupakan visi dan misi Amidis,” ungkap Susilo Gunadi, Commercial Director PT Amidis Tirta Mulia.

Load More