- Penyalahgunaan gas tawa N2O pada whip pink picu kerusakan saraf masif.
- Dosis berlebih gas tawa berisiko sebabkan henti napas hingga henti jantung.
- Efek euforia N2O bersifat adiktif dan memicu gejala sakau saat berhenti.
Suara.com - Dokter spesialis saraf blak-blakan mengatakan cara kerja whip pink berisi gas tawa atau gas nitrous oxide (N2O) yang disalahgunakan memiliki efek setara narkotika karena memicu kecanduan.
Hal ini karena gas N2O dalam dunia medis umumnya digunakan untuk anestesi atau pembiusan sebelum tindakan seperti operasi. Bahkan, pemberian dosis gas N2O sangat ketat dalam dunia kedokteran karena efeknya bisa mematikan jika diberikan secara berlebihan.
"Nah, dengan dosis-dosis tertentu zat ini bisa sangat mematikan, makanya dalam dunia anestesi diatur, nggak bisa sembarangan pakai ini. Harus dicek dulu, dipremedikasi dulu sebelum dilakukan itu, dilihat kondisi jantungnya, parunya, kemudian organ-organ lainnya, komorbiditasnya, memungkinkan atau tidak dikasih NO ini untuk anestesi," ujar Spesialis Saraf Eka Hospital Bekasi, dr. Novrialdi Kesuma Putra, Sp.N, Kamis (29/1/2026).
dr. Novrialdi menambahkan, jika penggunaan gas N2O ini berlebihan atau tidak sesuai perhitungan dokter, maka pasien bisa mengalami henti napas hingga henti jantung.
Sehingga, jika N2O disalahgunakan untuk mendapatkan euforia atau efek nge-fly di luar tindakan medis, maka bisa merusak saraf bahkan hingga mengganggu fungsi otak. Ini karena gas N2O seperti yang ada dalam tabung whip pink bisa tersisa di sistem saraf tubuh hingga otak.
"Begitu juga N2O saat asupannya berlebih, maka yang berlebih ini akan tersisa. Contoh, misalnya kemampuan tubuh mendetoksnya 20 persen, tapi yang kita masukkan 80 persen, maka sisa 60 persen. Maka 60 persen ini akan tertimbun di tubuh, terutama di sel-sel neurotransmitter," ungkap dr. Novrialdi.
"Apa yang terjadi? Terjadi kerusakan neurotransmitter yang masif karena zat sisa tadi yang tidak terdetoks. Kerusakan neurotransmitter yang masif itu, maka terjadi gangguan fungsi otak," lanjutnya.
Mirisnya lagi, jika tubuh sudah terbiasa terpapar zat ini karena memberi efek euforia, maka tubuh akan sulit lepas karena terbiasa mendapatkan efek kesenangan yang cepat.
Hasilnya, kata dr. Novrialdi, kondisi ini serupa dengan seseorang yang mengalami putus obat secara tiba-tiba atau withdrawal, yang oleh orang awam disebut sakau. Gejalanya diawali sakit kepala, gangguan fokus, hingga sederet kondisi yang membuat tubuh ingin kembali merasakan sensasi euforia.
Baca Juga: Kenapa Whip Pink Disebut Gas Tertawa N2O? Kenali Bahaya Jika Disalahgunakan
"Yes, dia adiktif (seperti narkoba), karena nge-fly tadi. Dia sudah terbiasa dengan hal itu, otaknya sudah memiliki persepsi seperti itu. Enak nih pakai kayak gini. Ketika itu dihentikan, seperti ada yang kurang," terangnya.
Adapun jika sudah terlampau kecanduan N2O, maka orang tersebut membutuhkan waktu lama untuk detoks dan harus mengalihkan perhatian saat tubuh kembali menginginkan gas tawa tersebut.
"Tetap saja harus perlahan-lahan. Ya harus dilawan, nggak bisa instan. Paling kita bantu dengan mengalihkan kegiatan. Contohnya dialihkan dengan olahraga, kegiatan-kegiatan positif yang memang juga menimbulkan kesenangan," pungkas dr. Novrialdi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien