Suara.com - Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu alias MPASI wajib dilakukan setelah anak berusia di atas 6 bulan.
Sebab di usia tersebut, kebutuhan gizi dan nutrisi anak tidak dapat tercukupi hanya dari ASI.
Untuk itu, penting bagi orangtua mengetahui apa saja bahan MPASI yang direkomendasikan hingga bagaimana cara mengatasi bayi yang sulit makan MPASI.
Dirangkum Suara.com, berikut ulasannya:
1. Bayi Sulit Makan Saat MPASI, Bisa Jadi Ini Sebabnya
Sulit makan jadi permasalahan umum yang terjadi pada anak usia di bawah satu tahun. Lantaran anak juga belum bisa bicara dengan jelas, sehingga terkadang membuat orangtua bingung mengetahui penyebab anak enggan makan.
Biasanya anak akan enggan membuka mulutnya ketika disuapi makanan. Atau juga mengeluarkan kembali makanan yang sudah di dalam mulut.
2. Dokter Gizi: Membiasakan Anak Makan Sayur Harus Dilakukan Sejak MPASI
Baca Juga: Badan POM Rilis Standarisasi Pembuatan MPASI
Tak sedikit orangtua merasa kewalahan membujuk anak makan sayur. Segala cara dikerahkan, mulai dari menyembunyikan sayur di dalam makanan hingga memaksa anak. Tapi tahukah Anda, menurut ahli gizi dan Ketua Indonesia Sport Nutrition Association, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, anak yang susah makan sayur sesungguhnya dipengaruhi oleh pola asuh orangtua sejak pemberian makanan pendamping ASI di usia enam bulan.
“Umumnya kesalahan terjadi saat orangtua salah memberikan MPASI pertama anak, sepatutnya memang perlu dilakukan sejak dini,” ujar Rita dalam pernyataannya secara virtual, Kamis (3/12/2020).
3. Penting, Konsumsi MPASI Organik Bisa Tingkatkan Kekebalan Tubuh Bayi
Pemberian MPASI atau makanan pendamping ASI merupakan momen terpenting bagi bayi. Selain itu merupakan pertama kalinya menerima makanan selain ASI, masa MPASI juga akan menjadi pondasi bagi kebiasaan makan dan status gizi anak kelak.
Bahkan, organisasi WHO menganjurkan bayi mulai mengkonsumsi MPASI berupa makanan solid dan halus agar nutrisinya memadai bagi pertumbuhan tubuh dan otak. MPASI ini idealnya harus kaya nutrisi, seperti makanan bahan organik untuk memenuhi kebutuhan di 1000 hari pertama.
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Nutrisi: Rahasia Sukses MPASI Tanpa Drama dengan Metode 'Mindful Feeding'
-
Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Stop Gerakan Tutup Mulut! 3 Metode Ampuh Bikin Anak Lahap MPASI di Usia Emas
-
8 Rekomendasi Food Container Kaca Termurah, Aman untuk Wadah Makan dan MPASI
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?