Suara.com - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan kebanyakan orang yang terinfeksi Covid-19 gejalanya akan hilang dalam beberapa minggu setelah pulih.
Namun, beberapa orang mengalami masalah kesehatan yang berkelanjutan atau umum disebut Long Covid, seperti kelelahan, kardiorespirasi, dan gejala neurologis.
CDC menjelaskan Long Covid kurang umum pada anak-anak dan remaja, dibandingkan orang dewasa. Tetapi faktanya, masih ada beberapa yang melaporkan anak-anak juga menderita kondisi ini.
Seperti yang dilaporkan dalam tinjauan Murdoch Children's Research Institute (MCRI), Australia, yang baru-baru ini muncul di Pediatric Infectious Disease Journal.
Tinjauan ini mencakup 14 studi yang melibatkan 19.426 anak dan remaja. Mereka melaporkan mengalami gejala Long Covid pada 4 hingga 12 minggu setelah terinfeksi, seperti sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, sulit konsentrasi, hingga sakit perut.
Tetapi, Medical News Today melaporkan bahwa hampir semua studi yang ada memiliki keterbatasan. Membuat peninjau menekankan perlunya studi baru untuk melihat risiko Long Covid pada anak-anak dan remaja.
"Oleh karena itu, kita perlu menentukan secara akurat risiko long Covid pada kelompok usia ini, Seringkali, hanya satu penelitian yang dikutip untuk prevalensi gejala menetap. Kami ingin meringkasnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik," jelas salah satu peninjau Dr. Petra Zimmermann, dosen senior di Universitas Friborg, Swiss.
Selain itu, ada juga halangan dalam melakukan penelitian.
Peninjau menyatakan tidak ada definisi yang jelas tentang berapa lama Long Covid terjadi. Para peneliti juga belum menyepakati berapa lama biasanya fenomena ini berlangsung.
Baca Juga: Studi: Orang Usia 50-59 Tahun Berisiko Tinggi Alami Long Covid-19
"Ini adalah virus baru, jadi lebih sulit untuk dipelajari. Dibanding dengan (virus) yang sudah dikenal dokter dan peneliti," sambungnya.
Ia melanjutkan, "Setiap hari kami mempelajari hal-hal baru dan harus menyesuaikan manajemen klinis dengan penelitian kami."
Selain itu, umumnya peneliti yang melakukan studi akan mengandalkan laporan peserta daripada melakukan tes atau pemeriksaan fisik. Hal ini menyebabkan bias.
"Kemungkinan orang dengan gejala menetap lebih mungkin merespon daripada peserta yang merasa sehat, yang dapat menyebabkan bias seleksi dan melebih-lebihkan tingkat gejala persisten," tandas Dr. Zimmermann.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?