Suara.com - Hingga kini peneliti terus mengumpulkan pengetahuan penting tentang efek Covid-19 pada tubuh dan otak. Temuan-temuan yang ada meningkatkan kekhawatiran dampak jangka panjang yang mungkin ditimbulkan virus corona.
Pada Agustus 2021 lalu, sebuah studi pendahuluan berskala besar yang menyelidiki perubahan otak penyintas Covid-19 menemukan perbedaan mencolok dalam materi abu-abu.
Berdasarkan Live Science, area materi abu-abu terdiri dari badan sel neuron yang memproses informasi di otak.
Peneliti menemukan ketebalan jaringan materi abu-abu di bagian lobus frontal dan temporal berkurang pada penyintas Covid-19, berbeda dari pola khas pada kelompok yang tidak pernah terinfeksi.
Umumnya, memang normal mengalami perubahan volume atau ketebalan materi abu-abu dari waktu ke waktu seiring bertambahnya usia. Tetapi pada penyintas Covid-19, perubahannya lebih besar.
Bahkan, tidak ada perbedaan antara penyintas Covid-19 parah dengan yang ringan. Artinya, mau parah atau tidak, materi abu-abu pada otak tetap terpengaruh.
Selain itu, peneliti menyelidiki perubahan kinerja pada penyintas Covid-19. Mereka menemukan kelompok ini menjadi lebih lambat dalam memproses informasi.
Selain itu, SARS-CoV-2 juga memengaruhi bagian otak olfactory bulb, sebuah struktur di dekat bagian depan otak yang meneruskan sinyal tentang bau dari hidung ke daerah otak lainnya. Inilah alasan penderita Covid-19 kehilangan indera perasa dan penciuman.
Olfactory bulb terhubung dengan daerah lobus temporal, daerah di mana hipoccampus berada. Ini adalah bagian otak yang kemungkinan memainkan peran kunci dalam penuaan, mengingat fungsinya adalah mengolah memori dan proses kognitif.
Baca Juga: Ilmuwan Ungkap Kemunculan Varian Virus Corona R.1 Terdeteksi Pertama Kali di Jepang
Meskipun terlalu dini untuk menarik kesimpulan tentang dampak jangka panjang ini, menyelidiki kemungkinan hubungan antara perubahan otak terkait Covid-19 dan memori sangat menarik. Terutama mengingat daerah yang terlibat dan pentingnya bagian tersebut dalam memori dan penyakit Alzheimer.
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
Terkini
-
Orang Tua Waspada! Ini Tanda Gangguan Pertumbuhan pada Anak: Pengaruh Hingga Dewasa
-
Vaksin Campak Apakah Gratis? Ini Ketentuannya
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan
-
Gaya Hidup Sehat dan Aktif Makin Jadi Pilihan Masyarakat Modern Indonesia
-
Empati Sejak Dini, Ramadan Jadi Momen Orang Tua Tanamkan Nilai Kebaikan pada Anak
-
Stop Target Besar! Rahasia Konsisten Hidup Sehat Ternyata Cuma Dimulai dari Kebiasaan Kecil
-
Bibir Sumbing pada Bayi: Penyebab, Waktu Operasi, dan Cara Perawatannya
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi