- Aktivitas memasak pascapandemi menjadi sarana edukasi efektif mengenalkan konsep gizi seimbang kepada anak-anak.
- Kompetisi tersebut menekankan pemahaman nutrisi dan bahan berkualitas, dengan Kayna Renee Lynn dari Bogor sebagai juaranya.
Suara.com - Pendidikan mengenai gizi seimbang bagi anak sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Teori tentang kesehatan kerap dianggap membosankan oleh anak-anak.
Namun, tren gaya hidup pascapandemi menunjukkan adanya pergeseran pola asuh, di mana orang tua mulai memanfaatkan aktivitas praktis di rumah sebagai sarana edukasi.
Data NielsenIQ Indonesia Mid-Year Consumer Outlook Guide to 2025 mencatat bahwa 64% konsumen Indonesia kini lebih memilih melakukan aktivitas di rumah.
Tren at-home cooking ini menjadi momentum emas untuk mengenalkan pentingnya memilih bahan makanan berkualitas demi mendukung tumbuh kembang anak sejak dini.
Dapur sebagai Ruang Kelas Nutrisi
Memasak tidak lagi sekadar kegiatan domestik, melainkan telah bertransformasi menjadi laboratorium kecil bagi anak untuk memahami sumber energi tubuh. Hal inilah yang tecermin dalam ajang kompetisi memasak anak, Grand Final Weyoco Junior Chef Indonesia Season 5, yang digelar di La Piazza Gandaria City, Jakarta, baru-baru ini.
Acara yang mempertemukan 50 finalis terpilih dari berbagai kota di Indonesia ini membuktikan bahwa anak-anak usia 10–15 tahun mampu memahami konsep nutrisi yang kompleks melalui praktik langsung di dapur.
Dalam sesi edukasi yang menjadi bagian dari acara tersebut, para ahli gizi menekankan bahwa pemahaman tentang karbohidrat kompleks dan protein harus dikenalkan sejak dini. Memasak pasta, misalnya, bisa menjadi pintu masuk untuk mengajarkan anak tentang sumber energi yang tahan lama dan zat pembangun tubuh.
Export Manager San Remo, Bruno Scheidt, menjelaskan bahwa antusiasme anak-anak dalam mengolah makanan menunjukkan bahwa dapur bisa menjadi ruang kelas yang paling menyenangkan.
Baca Juga: Dari Dongeng ke Scrolling: Hilangnya Sentuhan Orang Tua dalam Tumbuh Kembang Anak
“Ketika mereka belajar memilih bahan berkualitas dan memahami nilai gizi dari setiap bahan yang digunakan, mereka sedang membangun fondasi pola makan sehat yang akan terbawa hingga dewasa. Grand Final ini membuktikan bahwa memasak bisa menjadi media pembelajaran yang bermakna sekaligus menyenangkan,” ujar Bruno.
Pentingnya edukasi ini juga dibahas dalam sesi bincang santai (talk show) bersama ahli gizi Alenna dan pendiri komunitas Smartmums, Vibie. Mereka menyoroti bahwa melibatkan anak dalam proses memasak adalah cara paling organik untuk mengenalkan konsep gizi seimbang.
Anak yang terlibat dalam proses pembuatan makanan cenderung lebih menghargai apa yang mereka makan dan lebih terbuka untuk mencoba menu sehat.
Lebih dari Sekadar Rasa: Pentingnya Pemahaman Gizi
Aspek edukasi gizi ini juga menjadi kriteria utama dalam penilaian kompetisi. Di hadapan juri profesional yang terdiri dari Chef Vindex Tengker (Vice President Asosiasi Chef Profesional), Bukhori (MasterChef Indonesia Season 5), Machel (MasterChef Indonesia Season 9), dan influencer Cynthia (@janelleandmom), para peserta tidak hanya dituntut menyajikan hidangan lezat.
Ajang ini merupakan puncak dari rangkaian audisi di enam kota besar dan seleksi daring yang diikuti lebih dari 600 peserta. Setelah melalui penilaian ketat, gelar juara berhasil diraih oleh Kayna Renee Lynn dari Bogor, disusul oleh Ariele Ridinda Kirei dari Depok di posisi kedua, dan Talenia dari Kebayoran di posisi ketiga.
Berita Terkait
-
Panduan Nutrisi Anak: 7 Makanan Super yang Wajib Ada di Menu Harian
-
Teknologi Jadi Kunci: Ini Pendekatan Baru Cegah Stunting dan Optimalkan Tumbuh Kembang Anak
-
Camping Lebih dari Sekadar Liburan, Tapi Cara Ampuh Bentuk Karakter Anak
-
Nggak Sekadar Tinggi Badan, Ini Aspek Penting Tumbuh Kembang Anak
-
Bukan Cuma Soal Juara: Ini Alasan Bakat Penting Buat Tumbuh Kembang Anak
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
Terkini
-
Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi
-
Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi
-
Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?
-
Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar
-
Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker
-
Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat
-
Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat
-
Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama