Suara.com - Belakangan, banyak artikel mengulas bahaya Bisphenol A (BPA) pada pangan, khususnya pada produk air minum dalam kemasan. Namun demikian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pakar keamanan pangan dan pakar kimia menyatakan bahwa air bukanlah pengantar yang baik untuk meluruhan BPA pada kemasan plastik. BPA akan lebih mudah larut pada pangan mengandung lemak dan dalam suhu yang panas.
Salah satu kemasan yang mengandung BPA adalah makanan kaleng. Lapisan plastik yang mengandung BPA pada bagian dalam makanan kaleng berfungsi untuk mencegah karat.
Karena makanan kaleng banyak yang berminyak dan dipanaskan sebelum dikonsumsi, maka BPA pada pelapis plastiknya lebih mudah bercampur dengan isi makanan kaleng.
Bahaya BPA pada makanan kaleng ini dijelaskan pernah dijelaskan oleh Prof. dr. Aru Sudono dalam seminar yang diselenggarakan YLKI beberapa waktu lalu.
Penelitian yang dipublikasikan oleh Environmental Research juga menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan kaleng berhubungan dengan tingginya konsentrasi BPA dalam urin. Semakin banyak mengonsumsi makanan kaleng, maka semakin tinggi juga kadar BPA yang ditemukan dalam urin.
Dr. Karin Wiradarma, M. Gizi dari KlikDokter mengingatkan kembali bahwa makanan yang dikemas dalam kaleng biasanya ditambahkan garam dan gula sebagai penyedap rasa. Garam, gula, dan pengawet dalam makanan kaleng memang dalam batasan yang wajar, namun menurutnya, garam dan gula tambahan dalam makanan kaleng bisa meningkatkan risiko-risiko penyakit, seperti tekanan darah tinggi.
“Penambahan gula dalam makanan kaleng mempunyai dampak bahaya dan menyebabkan risiko terkena penyakit gula atau diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit jantung. Apabila sudah menderita kedua penyakit tersebut, sebaiknya hindari makanan kaleng agar tidak semakin parah,” ujarnya, Jakarta, Rabu (13/10/2021).
Sementara itu, Dr. Melyarna Putri, M.Gizi yang juga dari KlikDokter, juga menyarankan tidak boleh sering-sering mengonsumsi makanan kaleng dalam jumlah yang terlalu banyak.
“Meski kandungan nutrisinya sama dengan makanan segar, tapi makanan kaleng ditambahkan bahan kimia selama proses pengemasan. Bahan kimia yang digunakan dalam pengemasan, salah satunya adalah BPA, yang digunakan untuk menghalau karat dari kaleng. Bahan kimia ini tidak baik untuk kesehatan kalau dikonsumsi dalam jumlah yang terlalu banyak,” ujarnya.
Baca Juga: Ralali Berikan Ribuan Paket Makanan Kaleng ke Warga Terdampak PPKM
Ia menambahkan, jika mengonsumsi terlalu banyak makanan kaleng dapat, maka meningkatkan risiko diabetes akibat paparan BPA dari kemasan kalengnya.
“Terlalu banyak terpapar BPA dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan pada sistem metabolisme tubuh dan mengurangi sensitivitas insulin, sehingga kadar gula darah akan terus naik,” kata Melyarna.
Makanan kaleng biasanya dapat bertahan lama, karena mengandung bahan pengawet makanan. Bahan pengawet dapat mendorong pertumbuhan sel kanker.
Selain dapat menyebabkan tumbuhnya sel kanker pada tubuh, bahan kimia yang digunakan untuk mengawetkan makanan kaleng juga dapat menyebabkan berbagai gangguan pada sistem pencernaan, misalnya menimbulkan pengedapan dalam usus, dan pada akhirnya dapat menyebabkan masalah pada sistem pencernaan, seperti diare dan sakit perut.
Makanan kaleng yang dibiarkan dalam jangka waktu lama juga dapat menimbulkan tumbuhnya bakteri yang disebut clostridium. Hal ini dapat menyebabkan keracunan, yang biasanya ditandai dengan munculnya gejala seperti pusing dan mual-mual.
Ada juga banyak jenis makanan kaleng yang memiliki tambahan pemanis buatan yang cukup signifikan, misalnya buah kalengan. Pemanis buatan yang digunakan pada makanan kalengan biasanya sulit untuk dicerna oleh tubuh. Hal tersebut dapat menyebabkan gangguan pada ginjal dan saluran kemih.
Berita Terkait
-
Kertas Thermal Struk Belanja Bisa Picu Penyakit Bahaya, Begini Cara Pencegahannya
-
Adakah Perbedaan Antara Air Minum Biasa dengan Air Oksigen? Ini Faktanya!
-
Tambahkan 5 Bahan Alami Ini dalam Air Minum dan Rasakan Efeknya!
-
Jangan Keseringan! Ini 4 Makanan Kaleng Paling Buruk untuk Dikonsumsi
-
Cara Aman Mengonsumsi Makanan Kaleng, Lakukan 4 Hal Ini
Terpopuler
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan, RAM 6 GB Performa Jempolan
- 5 Sepatu Skechers Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Cocok Dipakai Lansia
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
Pilihan
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
Terkini
-
Bosan Liburan Gitu-Gitu Aja? Yuk, Ajak Si Kecil Jadi Peracik Teh Cilik!
-
Menkes Tegaskan Kusta Bukan Kutukan: Sulit Menular, Bisa Sembuh, Fatalitas Hampir Nol
-
Kabar Gembira! Kusta Akan Diskrining Gratis Bareng Cek Kesehatan Nasional, Ini Rencananya
-
Era Baru Dunia Medis: Operasi Jarak Jauh Kini Bukan Lagi Sekadar Imajinasi
-
Angka Kematian Bayi Masih Tinggi, Menkes Dorong Program MMS bagi Ibu Hamil
-
Gaya Hidup Sedentari Tingkatkan Risiko Gangguan Muskuloskeletal, Fisioterapi Jadi Kunci Pencegahan
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli