Suara.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan umur anak di Indonesia yang melakukan hubungan seks semakin maju namun edukasi kesehatan reproduksi masih stagnan.
“Kita ini (usia) seksnya maju tapi otaknya tidak maju-maju. Jadi pemahaman kesehatan reproduksinya tidak maju, tapi seksnya maju. Ini masalah serius,” kata Hasto dalam webinar Personal Hygiene Kesehatan Reproduksi yang diikuti di Jakarta, Jumat (15/10/2021).
Hasto menyebutkan, saat ini usia anak yang melakukan hubungan seksual pertama kali banyak dilakukan oleh anak yang berusia 14 tahun. Dibandingkan dengan 10 hingga 15 tahun lalu yang dilakukan oleh anak berusia 16 atau 17 tahun.
Majunya usia anak yang melakukan seks tersebut, disebabkan oleh kurangnya edukasi mengenai hubungan seks dan kesehatan reproduksi pada anak.
Menurut Hasto, hubungan seks yang dilakukan oleh anak khususnya anak perempuan di bawah usia 16 tahun sangat berbahaya. Karena mulut rahim masih menghadap ke arah luar sehingga anak dapat berpotensi terkena kanker serviks akibat tidak mengetahui bagaimana cara menjaga kebersihan alat kelamin dengan baik dan benar.
Ia mengatakan, ketidaktahuan tersebut telah menyebabkan kanker serviks menduduki peringkat kedua penyebab perempuan di Indonesia meninggal dunia.
Selain kanker serviks, kata dia, anak perempuan juga rawan terkena keputihan (keluarnya cairan lendir dari vagina) karena tidak mengetahui bahwa kuman dan bakteri dari luar, dapat masuk sampai ke dalam rongga rahim.
“Inilah maka kita harus betul-betul menjaga kebersihan dan saya juga mengingatkan, ingat! HIV AIDS harus kita cegah betul karena dia melalui hubungan seks,” kata dia menjelaskan penyakit lain yang dapat menyerang anak.
Melihat semakin banyak anak yang melakukan hubungan seks dan tingginya peringkat kanker serviks di Indonesia, dia meminta agar edukasi kesehatan reproduksi lebih digiatkan sehingga masyarakat dapat mengubah persepsi bahwa hal tersebut merupakan pembelajaran, bukan hal yang tabu.
Baca Juga: Sering Dikonsumsi, Ternyata Minuman Ini Buruk bagi Kesuburan Pria
“Kesehatan reproduksi masih perlu diperjuangkan terus, supaya persepsi terhadap masalah reproductive health dan juga persepsi terhadap pembelajaran tentang komprehensif reproductive health ini, terus akan dipersepsikan dengan benar di tengah-tengah masyarakat. Saya kira ini penting,” tegas Hasto.
Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Eni Gustina mengatakan pemberian edukasi mengenai kesehatan reproduksi perlu dilakukan sejak anak berada pada usia dini.
“Kita harus sudah mengajarkan (pada anak) sejak kecil terhadap kesehatan reproduksi,” kata Eni
Eni menjelaskan pemahaman itu penting diberikan, selain dapat meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, hal tersebut dapat menghindari anak terkena infeksi, baik pada vagina maupun penis yang dimiliki anak.
Ia mengatakan, beberapa pemahaman kesehatan reproduksi yang dapat diberikan pada anak sejak usia dini yakni orang tua perlu memperkenalkan bagaimana cara membersihkan alat kelamin yang benar dan menjelaskan terdapat beberapa bagian tubuh yang perlu ditutup dua lapis pakaian.
Eni menegaskan saat ini, kesadaran akan kesehatan reproduksi dalam masyarakat masih rendah sehingga perlu lebih masif dilakukan.
Tag
Berita Terkait
-
Wali Kota Hasto Pasang Target Jam 2 Dini Hari Sampah Malam Tahun Baru di Kota Jogja Sudah Bersih
-
Ogah Terjebak Macet, Wali Kota Jogja Pilih Naik Motor Pantau Keramaian Malam Tahun Baru
-
8 Anak Terpisah dengan Keluarga di Malioboro, Wali Kota Jogja: Bisa Ditemukan Kurang dari 15 Menit
-
Ikuti Instruksi Kapolri, Pemkot Jogja Resmi Larang Pesta Kembang Api saat Pergantian Tahun
-
Wali Kota Yogyakarta Minta Pengamen Malioboro Berkualitas di Atas Rata-Rata!
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?
-
Kisah Pilu Randu Alas Tuksongo, 'Raksasa yang Harus Tumbang' 250 Tahun Menjadi Saksi
-
Insentif Mobil Listrik Dipangkas, Penjualan Mobil BYD Turun Tajam
-
Pasar Modal RI Berpotensi Turun Kasta, Kini Jepang Pangkas Rekemondasi Saham BEI
Terkini
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan
-
Diam-Diam Menggerogoti Penglihatan: Saat Penyakit Mata Datang Tanpa Gejala di Era Layar Digital