Suara.com - Kementerian Kesehatan menegaskan kalau virus corona SARS Cov-2 varian A.Y 4.2 belum terdeteksi di Indonesia.
Meski begitu, pemerintah terus melakukan pemantauan ketat terhadap proses keluar masuk orang dari luar negeri sebagai tindakan pencegahan.
"Sampai saat ini belum terdeteksi ya. Tentunya penguatan di pintu masuk dengan pemeriksaan PCR 3 kali negatif dan wajib karantina 5 hari bagi pendatang diterapkan bagi pelaku perjalanan luar negeri. Dan terakhir pemeriksaan genom sekuensing untuk semua spesimen yang positif," kata juru bicara Covid-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmidzi kepada suara.com, Minggu (31/10/2021)
Kemenkes juga mengiimbau masyarakat jika tidak ada keperluan mendesak sebaiknya tidak perlu bepergian keluar negeri, terutama negara yang sudah terdeteksi adanya virus corona varian A.Y 4.2.
"Untuk menunda sampai situasi pandemi lebih baik," tegasnya.
Keberadaan virus corona varian A.Y 4.2 juga masih dalam pelacakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kekuatan subvarian Delta itu akan ditentukan apakah lebih menular daripada jenis aslinya, karena kasus Covid-19 meningkat secara global.
WHO mengatakan kalau varian tersebut telah terdeteksi setidaknya di 42 negara. Dalam pembaruan epidemiologi mingguannya, WHO mengatakan bahwa peningkatan AY.4.2 pengiriman urutan telah diamati sejak Juli lalu.
“Studi epidemiologis dan laboratorium sedang berlangsung untuk melihat apakah ada perubahan dalam penularan varian, atau penurunan kemampuan antibodi manusia untuk memblokir virus,” kata WHO, sebagaimana diberitakan SCMP beberapa waktu lalu.
Subvarian yang disebut ‘Delta Plus’ ini juga telah ditetapkan sebagai Varian Dalam Penyelidikan oleh Badan Keamanan Kesehatan Inggris.
Namun, belum ada bukti bahwa infeksinya menyebabkan penyakit yang lebih parah atau membuat vaksin tidak efektif.
Karena itu bukan varian minat atau perhatian, karenanya belum dinamai menurut huruf alfabet Yunani. Badan kesehatan PBB melacak ada sekitar 20 variasi varian Delta.
Garis keturunan AY. 4.2 memiliki tiga mutasi tambahan dibandingkan dengan varian Delta asli, termasuk dua di protein lonjakan, bagian dari virus yang menempel pada sel manusia.
Sekitar 93 persen dari semua kasus subvarian yang terdeteksi berada di Inggris, menurut data yang diunggah ke inisiatif sains global GISAID.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak
-
Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua
-
Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat
-
Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?
-
Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty
-
Cemas Datang Tiba-Tiba? Ini 7 Cara Ampuh Mengatasi Anxiety dalam Hitungan Menit