Suara.com - Pandemi Covid-19 membawa dampak pada kesehatan mental, dengan gejala yang sangat kompleks. Di antaranya adalah kecemasan, insomnia, depresi, dan gangguan stres pasca trauma (PTSD).
Masalah kesehatan mental tak hanya menghampiri mereka yang terdampak Covid-19, tetapi juga seluruh masyarakat yang mengalami pembatasan sosial. Berada di rumah saja ternyata juga dapat memengaruhi kesehatan mental mereka, di mana mereka sangat tertekan dan mengalami kejenuhan.
Hal inilah yang diungkap oleh Dosen Akademi Keperawatan Karya Bakti Husada Agustiningsih, dalam acara Webinar Saintek Festival, bertajuk Self Healing and Raising Mental Health Awareness During Pandemic, beberapa waktu yang lalu.
Pada hasil penelitian yang dilakukan di tingkat dunia dan Indonesia, menunjukkan fakta bahwa di Amerika saja, ide bunuh diri pada remaja naik dari 17 persen pada tahun 2017, menjadi 37 persen selama pandemi Covid-19.
Selain itu, studi yang terjadi di Kanada mengungkap 18 persen remaja yang disurvei memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya, di mana sebelumnya pada tahun 2017 jumlah ini hanya sekitar 6 persen.
“Itu banyak sekali ide tentang bunuh diri pada remaja, mulai dari usia 12 sampai 18 tahun. Jadi di Amerika ide bunuh diri semakin meningkat selama pandemi,” ungkap Agustiningsih.
Di samping itu, penelitian lain dunia juga mengungkapkan, tingkat self harm (menyakiti diri sendiri) meningkat dari 32 persen menjadi 42 persen, setelah diberlakukan penutupan sekolah.
Selain itu, studi yang dilakukan di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Di Surabaya, misalnya, kejadian bunuh diri diakibatkan oleh depresi gara-gara tujuh kali melakukan swab dan hasilnya yang positif.
“Walaupun di Amerika dan Kanada tidak diketahui (penyebabnya), tapi rata-rata diakibatkan karena depresi. Di Indonesia, ini alasannya karena tujuh kali swab dengan hasil positif. Tapi sebenarnya tidak mengalami gejala yang berarti, atau hanya gejala ringan,” ungkap Agustiningsih.
Baca Juga: Lagi, China Pecat Pejabat Pemerintah yang Lalai Tangani Pandemi COVID-19
“Jadi di sini banyak sekali kejadian bunuh diri pada remaja yang diakibatkan karena depresi. (Tapi pertanyaannya, kenapa remaja bunuh diri? Di sistem otak itu ada zat amigdala, jadi ini sangat dominan pada remaja di mana ini berfungsi mengeluarkan emosi, dan juga menekan jiwanya,” lanjut Agustiningsih.
“Jadi karena emosionalnya besar, dan tekanannya semakin kuat, sehingga mengakibatkan depresi dan sulit dikendalikan. Dan ini yang mengakibatkan ide untuk bunuh diri,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!