Suara.com - Beberapa waktu ini ramai kasus bunuh diri seorang mahasiswa asal Mojokerto, Jawa Timur, bernama Novia Widyasari (NWR).
Terungkap bahwa NWR diduga depresi akibat menjadi korban perkosaan serta pemaksaan aborsi oleh kekasihnya, Bripda Randy Bagus (RB).
Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap RB, terungkap bahwa NWR telah melakukan aborsi sebanyak dua kali, yakni pada Maret 2020 dan Agustus 2021 lalu.
“Mereka berdua memang melakukan, jadi ketika diketahui positif, mereka sama-sama membeli obatnya, baik yang pertama maupun yang kedua. Usia kandungan yang pertama masih mingguan, yang kedua berusia 4 bulan,” kata Wakapolda Jawa Timur Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo.
NWR melakukan aborsi dengan mengonsumsi obat postinor, pada aborsi pertama, dan obat cytotec, pada tindakan kedua.
Kedua obat tersebut memiliki fungsi dan efek samping yang berbeda.
Postinor merupakan kontrasepsi darurat, yang tujuannya adalah untuk mencegah kehamilan. Obat ini seharusnya dikonsumsi dalam 72 jam setelah berhubungan seksual tanpa pengaman atau kondom.
Obat ini mengandung hormon progestin Levonorgestrel yang dapat mencegah pelepasan sel telur dari ovarium. Jadi, postinor sebenarnya bukan obat untuk aborsi.
Menurut Healthline, umumnya obat kontrasepsi darurat hanya menimbulkan efek samping ringan, seperti mual, muntah, sakit kepala, kelelahan, kelemahan, hingga pusing.
Baca Juga: Kasus Bunuh Diri Novia Widyasari yang Dipaksa Aborsi, Ini Kronologinya!
Kontrasepsi darurat juga dapat memengaruhi siklus bulanan. Menstruasi bisa datang satu minggu lebih awal atau satu minggu lebih lambat.
Sementara cytotec merupakan obat untuk mencegah tukak lambung akibat obat nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen. Bahan aktif cytotec adalah misoprostol.
Namun, cytotec memang umum digunakan sebagai obat aborsi jika dikonsumsi selama kehamilan trimester pertama.
Tetapi menurut dokter umum Aloisia Permata Sari dalam laman Alodokter, aborsi yang dilakukan tanpa indikasi medis mempunyai beragam risiko, seperti pendarahan kerusakan rahim, infeksi, radang panggul, hingga kemandulan.
Sedangkan efek samping dari cytotec sendiri adalah mual, muntah, diare, dispeosia, perut kembung, badan lemah dan tak bertenaga, sakit kepala ringan, pusing, sakit perut, pendarahan vagina, serta ruam kemerahan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!