Suara.com - Menyikapi masuknya varian Omicron ke Indonesia, Dokter Spesialis Anak Prof. Aman Bhakti Pulungan meminta orangtua untuk tidak pergi mengajak anaknya pergi liburan akhir tahun 2021.
Apalagi, kata Prof. Aman, anak tetap bisa tertular varian Omicron dan mengembangkan gejala berat jika terinfeksi dan belum divaksinasi Covid-19.
"Apakah nanti misalnya, akan terjadi pada anak, ya sangat mungkin. Kalau saya pribadi belum anjurkan liburan untuk saat ini. Jangan dulu deh, sabar dulu," ujar Prof. Aman dalam acara diskusi bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (17/12/2021).
Larangan ini disampaikan Prof. Aman karena dua alasan. Pertama karena masa liburan panjang akhir tahun pasti akan meningkatkan kenaikan jumlah infeksi kasus baru.
"Saya pikir masih ingat semua, pengurus IDAI, bagaimana sejak Juni sampai Oktober itu hampir seperti bagaimana dulu. Atau mau kembali seperti itu, waktu Januari dan Februari juga seperti itu, jadi sama," ungkapnya.
Alasan kedua, meskipun anak yang sudah divaksinasi, ia tetap berisiko terinfeksi Covid-19 dan menularkannya kepada anak lain yang belum divaksinasi Covid-19.
Bahkan meskipun baru divaksinasi usia 6-11, kekebalan tubuh belum terbentuk dengan sempurna. Antibodi atau kekebalan baru terbentuk 2 hingga 3 minggu setelah pemberian vaksinasi lengkap dua dosis.
Sedangkan jarak antara dosis 1 dan dosis 2 dengan vaksin Sinovac untuk anak, diberikan jeda minimal 28 hari.
"Jadi kalau siapapun jenis virusnya, mau Omicron dan lain-lain, prokesnya sama dan saya rasa sama saja, sama seluruh dunia. Kita tidak bisa anjurkan anak-anak itu traveling," tutup Prof. Aman.
Baca Juga: Cegah Omicron, Camat dan Lurah di Surabaya Diminta Aktifkan Lagi Kampung Tangguh
Selanjutnya, menyikapi vaksinasi anak usia 6-11 tahun yang sudah dijalankan pemerintah, IDAI juga mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut:
1. Pemberian imunisasi Covid-19 Coronavac® pada anak golongan usia 6–11 tahun.
2. Vaksin Coronavac diberikan secara intramuskular (suntik di otot lengan) dengan dosis 3mg (0,5 ml) sebanyak dua kali pemberian dengan jarak dosis pertama ke dosis kedua yaitu 4 minggu.
4. Anak dengan penyakit komorbid seperti kondisi kronis yang stabil mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami komplikasi bila menderita infeksi Covid-19, oleh karena itu anak-anak ini bisa diberikan imunisasi setelah mendapat rekomendasi dari dokter yang merawatnya.
5. Anak yang telah sembuh dari Covid-19 termasuk yang mengalami long COVID-19 perlu dilakukan vaksinasi Covid-19.
6. Anak yang menderita Covid-19 derajat berat atau MIS-C (Multi System Inflammatory Syndrome in Children) maka pemberian vaksinasi Covid-19 ditunda 3 bulan, sedangkan bila menderita Covid-19 derajat ringan-sedang ditunda 1 bulan.
7. Anak berkebutuhan khusus, anak dengan gangguan perkembangan dan perilaku, anak di panti asuhan atau perlindungan perlu mendapat vaksinasi Covid-19 dan perlu pendekatan khusus untuk pelaksanaan pemberian vaksinasinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?
-
Hoops + Health Youth Basketball Festival 2026 Dorong Generasi Muda Hidup Sehat & Melek Finansial
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien