Suara.com - Banyak orang menganggap depresi terlihat dengan gejala yang jelas, seperti selalu tampak sedih atau menarik diri dari orang yang dicintai.
Meski benar kedua hal itu termasuk gejala depresi, sebenarnya gangguan mental ini dapat bermanifestasi dalam berbagai cara dan seringnya berhubungan dengan gangguan jiwa yang lainnya, terutama kecemasan.
“Seseorang dengan depresi mungkin tampak lebih mudah tersinggung atau cemas daripada sedih, bahkan jika mereka juga mengalami kesedihan secara internal,” jelas direktur Pusat Terapi Kognitif di University of Pennsylvania, Cory Newman.
Tetapi gejala bukan satu-satunya kesalahpahaman seputar depresi. Ada beberapa mitos yang sampai saat ini banyak dipercaya mengenai depresi.
Berikut beberapa mitos tersebut, seperti yang dilansir Prevention:
1. Mitos: Seseorang yang depresi sangat mudah diketahui
"Banyak penderita berangkat ke sekolah atau kantor dan tampak lebih mudah tersinggung atau cemas daripada sedih. Mungkin mereka juga mengalami kesulitan berkonsentrasi dan berbicara atau bergerak lambat," ujar direktur pelatihan klinis di Departemen Psikologi Universitas DePaul, Jocelyn Smith Carter.
Menurutnya, kuncinya adalah mencari perubahan yang drastis pada orang lain. Misalnya, mereka menjadi lebih argumentatif, minum lebih banyak, atau mulai stress eating (makan berlebih ketika sedang stres).
2. Mitos: Setiap orang terkadang mengalami depresi
Baca Juga: Viral Momen Wisuda Batal Haru, Lagu yang Dinyanyikan Justru Bikin Wisudawan Kena Mental
Depresi yang sebenarnya merupakan diagnosis spesifik yang dialami sekitar satu dari enam orang dewasa dalam hidup mereka.
Kesedihan adalah emosi yang cenderung datang dan pergi, tetapi depresi klinis lebih konstan dan berlangsung lama, seringkali sebulan atau lebih.
“Depresi klinis terdiri dari sejumlah gejala yang Anda alami hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, setidaknya selama dua minggu,” kata Newman.
Tanda lainnya berupa perasaan tidak berharga atau merasa sangat bersalah, kehilangan minat pada aktivitas yang pernah disukai, atau berpikiran untuk bunuh diri.
Ada juga distimia, bentuk depresi persisten yang dapat diobati dan tidak terlalu ekstrem. Kondisi ini dapat 'surut' dan 'mengalir' dengan gejala mencakup keputusasaan, harga diri rendah, dan kelelahan.
Jadi, apabila Anda atau orang di sekitar merasa sangat sedih selama dua minggu atau lebih, dan/atau memiliki pikiran bunuh diri, sebaiknya bicarakan dengan psikolog atau psikiater.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat