Suara.com - Semua orang memiliki banyak emosi atau ekspresi, dari emosi marah, senang, sedih hingga cinta yang semua memberikan dampak berbeda-beda pada tubuh.
Banyak orang mungkin belum menyadari bahwa setiap emosi itu bisa mempengaruhi kesehatan tubuh kita dan efeknya pada bagian tubuh tertentu.
Menurut Dr. Bradley Nelson, chiropractor holistik menjelaskan bahwa emosi yang terpendam menyebabkan getaran dan frekuensi di bagian tubuh tertentu.
Jika kita tidak memproses atau melepaskannya, energi yang diciptakan oleh emosi itu akan tertahan di dalam dan bermanifestasi melalui ketegangan otot, nyeri atau penyakit lainnya.
Berikut ini dilansir dari Bright Side, beberapa efek emosi atau perasaan pada kesehatan tubuh kita.
1. Kebahagiaan dan cinta
Emosi bahagia akan mempengaruhi otot-otot yang terletak di perut, usus dan kandung kemih. Sedangkan, emosi cinta tidak terasa sebanyak di bagian kaki.
Kedua emosi ini bisa melepaskan dopamin dan serotonin, hormon perasaan baik yang membantu mengatur suasana hati dan emosi. Kedua eurotransmiter ini bekerja bahu-membahu dalam menjaga keseimbangan kimiawi di seluruh tubuh.
2. Kemarahan
Baca Juga: Pakar Merekomendasikan Jenis Masker Ini agar Terlindung dari Virus Corona Omicron
Emosi marah membuat seseorang ingin memukul sesuatu atau lainnya untuk meluapkan kekesalahan. Energi yang dihasilkan dari emosi ini memang sangat kuat efeknya di bagian lengan.
Selian itu, perasaan marah juga melepaskan adrenalin yang menyebabkan otot menegang dan tekanan darah meningkat. Ada juga penelitian yang menghubungkan kemarahan dengan penyakit jantung dan sistem kekebalan tubuh yang melemah.
3. Rasa takut
Tubuh akan memberikan respons melawan atau lari ketika merasa takut. Karena, rasa takut ini juga melepaskan hormon epinefrin dan norepinefrin, yang membantu mempersiapkan otot kita untuk tindakan kekerasan.
Hormon-hormon ini meningkatkan aktivitas di jantung dan paru-paru, yang bertepatan dengan atlas emosional yang dirumuskan oleh tim peneliti.
Sama halnya dengan emosi negatif, ketakutan terus-menerus dapat menyebabkan stres kronis yang bisa mempengaruhi memosi dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS