Suara.com - Kumpulan orang dengan jarak kurang dari 1 meter berisiko tingkatkan penularan Covid-19, meski tetap memakai masker. Apabila salah satu dari kumpulan orang tersebut terkonfirmasi positif Covid-19 setelahnya, maka orang yang ada di sekitar perkumpulan itu juga berisiko tertular.
Meski begitu, dokter mengingatkan jangan panik dan tidak perlu terburu-buru lakukan tes Covid-19. Dokter spesialis penyakit dalam dr. Ni Nyoman Indirawati, Sp.PD., mengatakan bahwa waktu terbaik untuk tes Covid-19 adalah pada rentang waktu 3-5 hari setelah mengalami kontak erat.
"Misalnya kita ketemu sama teman lama kemudian kontak erat lebih dari 1 jam, walaupun pakai masker tapi jaraknya kurang dari 1 meter. Ternyata dia ketahuan positif Covid-19. Jangan buru-buru besok swab, terlalu cepat. Tunggu 3-5 hari dulu, karena kita butuh masa inkubasi virus," jelas dokter Indira dalam webinar Platform EndCorona dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jumat (24/12/2021).
Apabila tes dilakukan terlalu cepat setelah adanya kontak erat, dikhawatirkan justru hasilnya menjadi negatif palsu.
"Jadi usahakan testing 3 sampai 5 hari setelah kontak erat atau pada saat mau bepergian atau saat muncul gejala demam, batuk, pilek. Kalau ada nyeri tenggorokan, nggak ada salahnya kalau kita untuk tes," ujarnya.
Menurut dokter Indira, tes skrining awal bisa dilakukan dengan antigen. Namun, agar lebih pasti, dokter Indira menyarankan agar melakukan tes PCR bagi yang pernah mengalami kontak erat maupun telah mengalami gejala infeksi Covid-19.
"Bedanya kalau antigen seringnya adalah tes skrining awal hanya mendeteksi komponen permukaan virus saja yang di luar. Tapi kalau swab PCR mendeteksi materi virus yang ada di dalam tubuh. Oleh karena itu, PCR akan lebih sensitif dan harganya lebih mahal," jelas pengajar di FKUI RSCM tersebut.
Akan tetapi, bila saat bergejala kemudian hasil tes antigen sudah positif, dokter Indira mengatakan bahwa kondisi tersebut bisa dipastikan terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa harus mengulang dengan tes PCR.
"Tapi kalau pernah kontak erat, nggak ada gejala, swab antigen masih negatif, nggak ada salahnya kita pastikan dengan PCR," saran dokter Indira.
Baca Juga: Fungsi Oximeter, Alat Pendeteksi Kadar Oksigen dalam Tubuh
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan