Suara.com - Anak balita yang terlihat gempal dan sangat gemuk tidak selamanya bagus, karena ia dibayangi risiko obesitas dan bisa membahayakan kesehatan.
Tapi yang jadi pertanyaan, bolehkah balita obesitas menjalani diet di saat mereka tengah berada di usia yang harus tercukupi gizinya?
Anak balita dikategorikan obesitas jika Indeks Massa Tubuh (BMI) mencapai angka 30 ke atas. Karena jika BMI di rentang 23 hingga 29,9 saja juga masuk kategori berat badan berlebih.
Ditegaskan langsung oleh Ketua DPP Persatuan Gizi (PERGIZI), Kombes Pol Rudatin, SKM, M.Si, bahwa balita obesitas tetap boleh menjalani diet.
Namun diet yang dimaksud Rudatin bukanlah diet yang mengurangi makan, melainkan mengganti dengan makanan sehat.
"Makanan sehat seimbang sesuai kebutuhan anak, kalau bisa diusahakan dibuat sendiri di rumah masing-masing," ujar Rudatin dalam acara diskusi Kemenkes RI jelang peringatan Hari Gizi Nasional ke-62, Selasa (18/1/2022).
Rudatin amat menyarankan orangtua untuk tidak mudah memberikan makanan siap saji, seperti junk food, gorengan, hingga makanan tinggi gula.
"Mohon maaf, ini juga tidak sehat, karena tidak ada sayur, dan porsinya berbeda," ungkapnya.
Serupa seperti orang dewasa, makanan sehat untuk anak juga harus mencakup konsep Isi Piringku dari Kemenkes, yaitu makanan yang terdiri dari tiga perempat makanan pokok karbohidrat, seperempat protein lauk pauk, dan setengah serat, serta vitamin dan mineral dari sayuran dan buah.
Baca Juga: 7 Manfaat Labu Air bagi Kesehatan, Salah Satunya Bisa Kurangi Risiko Kanker
Selain itu, kata Rudatin, diet untuk anak makanan saja tidak cukup, orangtua juga harus mengajarkan pola hidup bersih dan sehat, seperti cukup istirahat, cuci tangan pakai sabun, konsumsi 8 gelas air sehari, dan rutin berolahraga.
"Misalnya, anak jangan cuma les bahasa inggris, sebarkan kepada seluruh orang, jadi silahkan anak-anak dididik, bukan hanya kemampuan otaknya, tetapi fisiknya, yaitu renang, sekolah sepak bola, futsal dan sebagainya," pungkas Rudatin.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!
-
Diskon BRI untuk Paket MCU dan Perawatan Ortopedi di Primaya Hospital, Cek di Sini
-
IDAI Ingatkan Risiko Susu Formula di MBG: ASI Tak Bisa Digantikan Produk Pabrik