Suara.com - Ketua POKJA Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Erlina Burhan mengingatkan pentingnya vaksinasi Covid-19 untuk mencegah perburukan infeksi, termasuk paparan virus corona varian omicron.
Ia mengungkapkan, salah satu pasien omicron yang meninggal dunia pada Sabtu (22/1) lalu diketahui belum mendapatkan vaksinasi Covid-19 sama sekali. Sedangkan satu pasien lainnya yang meninggal telah divaksinasi, namun memiliki komorbid.
"Kita punya dua kasus yang meninggal, pertama adalah tidak divaksin, kedua yang meninggal sudah divaksin tapi punya komorbid lebih dari dua dan tidak terkontrol komorbidnya. Maka yang perlu kita waspadai sekarang adalah segera vaksinasi," kata Erlina dalam webinar PDPI, Senin (24/1/2022).
Berkaca dari kasus meninggal dunia pada pasien yang memiliki komorbid, dokter Erlina mengingatkan bahwa infeksi omicron tetap berisiko sebabkan perburukan gejala meskipun sudah divaksinasi, terutama pada kelompok lanjut usia.
"Kalau ada gejala yang mengarah ke omicron, seperti gejala nyeri tenggorokan, batuk, pilek, segera memeriksakan diri. Dan kalau terkonfirmasi positif, saya sarankan bagi yang lanjut usia dan punya komorbid, kesepakatan PDPI sebaiknya dirawat," ujarnya.
Sementara itu, vaksinasi juga sama pentingnya dalam penanganan Covid-19. Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta, itu menyampaikan bahwa vaksinasi dosis primer maupun dosis bisa mencegah paparan varian omicron.
Namun, vaksin tidak dapat berdiri sendiri dan harus sibarengi dengan disiplin lakukan protokol kesehatan. Hasil uji klinis membuktikan bahwa suntikan vaksin booster bisa meningkatkan titer antibodi.
Artinya, akan semakin banyak antibodi yang bisa menetralisir virus corona di dalam tubuh.
"Tetapi kita juga harus tahu bilamana paparan yang terjadi terus-menerus dan jumlah yang masuk lebih banyak, maka bisa jadi sistem imun kalah. Oleh sebab itu, vaksinasi tidak bisa berdiri sendiri. Penambahan booster itu adalah salah satu upaya meningkatkan imunitas, tapi jangan terlena kalau sudah booster sudah cukup. Orang yang tidak divaksinasi meskipun protokol kesehatannya ketat juga tidak cukup," pungkasnya.
Baca Juga: Produktif pada Masa Pandemi
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic