Health / Konsultasi
Rabu, 02 Februari 2022 | 11:30 WIB
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Dok. Envato)

Suara.com - Penelitian baru menemukan kalau pasien Covid-19 tidak akan butuh waktu lama untuk mengalami sindrom Covid-19 pasca-akut (PACS) atau dikenal juga dengan istilah long covid. 

Penelitian dilakukan oleh para ilmuwan di departemen imunologi University Hospital Zurich, Swis. Penelitian dimaksudkan untuk mengenali dan mengidentifikasi secepat mungkin kelompok rentan yang berisiko alami long covid.

"Gejala long covid yang paling sering dilaporkan adalah kelelahan, dispnea (sesak napas), dan gangguan kognitif (juga disebut 'kabut otak', yang meliputi kehilangan konsentrasi dan memori), serta rasa sakit dan nyeri di tempat yang berbeda, batuk, perubahan bau atau rasa, dan diare," tertulis dalam laporan penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications.

Menurut Mayo Clinic, long covid juga telah dirujuk sebagai 'covid jarak jauh' atau "sindrom pasca-Covid" untuk pasien yang telah terinfeksi tetapi terus mengalami efek samping dan gejala jangka panjang.

Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Dok. Envato)

"Perkiraan menunjukkan bahwa 10-30 persen orang yang terinfeksi Covid-19 akan berakhir dengan long covid," kata Dr. Greg Vanichkachorn, direktur medis Program Rehabilitasi Aktivitas Covid-19 di Mayo Clinic, dikutip dari Fox News.

Para peneliti Swiss di University Hospital Zurich tersebut mendefinisikan long covid untuk penelitian mereka dengan satu atau lebih gejala sisa terkait Covid-19 selama lebih dari empat minggu setelah dimulainya gejala pertama.

Tim mengevaluasi riwayat medis dari 175 pasien yang didiagnosis dengan Covid-19 dan membandingkannya dengan 40 pasien non Covid-19 selama studi satu tahun.

Hasilnya ditemukan kalau 82,2 persen pasien Covid-19 dengan kondisi parah mengalami long covid. Sementara yang hanya gejala ringan, long covid terjadi pada 53,9 persen pasien.

Para penulis menemukan pasien yang mengembangkan long covid juga memiliki tingkat antibodi IgM dan IgG3 yang lebih rendah. Padahal kedua antibodi itu berfungsi untuk melawan infeksi dalam aliran darah.

Baca Juga: Jokowi Minta Pemberian Obat Lewat Layanan Telemedicine Sampai Dalam Hitungan Jam

Para penulis menyebut respons antibodi itu sebagai 'tanda imunoglobulin', karena tidak seperti penanda inflamasi yang hanya meningkat sementara saat awal infeksi. Antibodi yang terdeteksi itu stabil dari waktu ke waktu dan menjadikannya biomarker yang menarik. 

Para peneliti menghubungkan tanda imunoglobulin itu dengan usia peserta, riwayat medis asma di masa lalu dan lima gejala tertentu selama infeksi primer terjadi. Menurut para peneliti, 75 persen sampel yang diambil efektif untuk dapat memprediksi risiko long covid, terlepas dari kapan darah pasien diambil. 

NBC News Digital melaporkan, kalau penelitian itu belum bisa dipastikan apakah masih relevan saat ini. Karena penelitian dilakukan antara April 2020 hingga Agustus 2021, saat varian Omicron belum terdeteksi. 

Dosen klinis senior di King's College London Dr. Claire Steves juga mencatat keterbatasan tambahan dari penelitian itu, yakni tidak memperhitungkan status vaksinasi peserta. 

"Penting untuk melihat apakah penanda ini masih prediktif pada orang yang divaksinasi karena lebih banyak populasi di dunia telah divaksinasi atau memiliki infeksi sebelumnya," kata Steves.

Load More