Suara.com - Penelitian baru menemukan kalau pasien Covid-19 tidak akan butuh waktu lama untuk mengalami sindrom Covid-19 pasca-akut (PACS) atau dikenal juga dengan istilah long covid.
Penelitian dilakukan oleh para ilmuwan di departemen imunologi University Hospital Zurich, Swis. Penelitian dimaksudkan untuk mengenali dan mengidentifikasi secepat mungkin kelompok rentan yang berisiko alami long covid.
"Gejala long covid yang paling sering dilaporkan adalah kelelahan, dispnea (sesak napas), dan gangguan kognitif (juga disebut 'kabut otak', yang meliputi kehilangan konsentrasi dan memori), serta rasa sakit dan nyeri di tempat yang berbeda, batuk, perubahan bau atau rasa, dan diare," tertulis dalam laporan penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications.
Menurut Mayo Clinic, long covid juga telah dirujuk sebagai 'covid jarak jauh' atau "sindrom pasca-Covid" untuk pasien yang telah terinfeksi tetapi terus mengalami efek samping dan gejala jangka panjang.
"Perkiraan menunjukkan bahwa 10-30 persen orang yang terinfeksi Covid-19 akan berakhir dengan long covid," kata Dr. Greg Vanichkachorn, direktur medis Program Rehabilitasi Aktivitas Covid-19 di Mayo Clinic, dikutip dari Fox News.
Para peneliti Swiss di University Hospital Zurich tersebut mendefinisikan long covid untuk penelitian mereka dengan satu atau lebih gejala sisa terkait Covid-19 selama lebih dari empat minggu setelah dimulainya gejala pertama.
Tim mengevaluasi riwayat medis dari 175 pasien yang didiagnosis dengan Covid-19 dan membandingkannya dengan 40 pasien non Covid-19 selama studi satu tahun.
Hasilnya ditemukan kalau 82,2 persen pasien Covid-19 dengan kondisi parah mengalami long covid. Sementara yang hanya gejala ringan, long covid terjadi pada 53,9 persen pasien.
Para penulis menemukan pasien yang mengembangkan long covid juga memiliki tingkat antibodi IgM dan IgG3 yang lebih rendah. Padahal kedua antibodi itu berfungsi untuk melawan infeksi dalam aliran darah.
Baca Juga: Jokowi Minta Pemberian Obat Lewat Layanan Telemedicine Sampai Dalam Hitungan Jam
Para penulis menyebut respons antibodi itu sebagai 'tanda imunoglobulin', karena tidak seperti penanda inflamasi yang hanya meningkat sementara saat awal infeksi. Antibodi yang terdeteksi itu stabil dari waktu ke waktu dan menjadikannya biomarker yang menarik.
Para peneliti menghubungkan tanda imunoglobulin itu dengan usia peserta, riwayat medis asma di masa lalu dan lima gejala tertentu selama infeksi primer terjadi. Menurut para peneliti, 75 persen sampel yang diambil efektif untuk dapat memprediksi risiko long covid, terlepas dari kapan darah pasien diambil.
NBC News Digital melaporkan, kalau penelitian itu belum bisa dipastikan apakah masih relevan saat ini. Karena penelitian dilakukan antara April 2020 hingga Agustus 2021, saat varian Omicron belum terdeteksi.
Dosen klinis senior di King's College London Dr. Claire Steves juga mencatat keterbatasan tambahan dari penelitian itu, yakni tidak memperhitungkan status vaksinasi peserta.
"Penting untuk melihat apakah penanda ini masih prediktif pada orang yang divaksinasi karena lebih banyak populasi di dunia telah divaksinasi atau memiliki infeksi sebelumnya," kata Steves.
Berita Terkait
-
Anggota DPR Minta Pemda Ikuti Perintah Jokowi Evaluasi PTM 100 Persen: Tak Perlu Bersilat Lidah dan Jangan Ngeyel!
-
Rayakan Imlek di Tengah Covid-19, Pranoto Kenang Kebersamaan Keluarga Berkumpul di Jogja
-
Kasus Covid-19 Tembus 16 Ribu Dalam Satu Bulan, Ketua Satgas IDI: Ini Pertanda Penyebaran Amat Cepat
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan