Suara.com - Paracetamol selama ini kerap digunakan untuk mengatasi rasa sakit, nyeri hingga demam. Dalam situasi pandemi Covid-19, paracetamol juga kerap disarankan untuk pasien virus corona.
Tapi, mulai sekarang sebaiknya berhati-hati. Karena konsumsi paracetamol ternyata berisiko pada serangan jantung. Sebuah penelitian besar telah menunjukkan bahwa orang Inggris yang telah menggunakan obat yang mengandung "bahan tersembunyi" lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung, stroke, gagal jantung atau mati.
Kebanyakan orang tidak akan menyadari bahwa garam terkadang ditambahkan ke parasetamol untuk membantu memecahnya dalam air. Tetapi para peneliti memperkirakan bahwa 170 dari setiap 10.000 orang dewasa di Inggris menggunakan obat yang mengandung garam.
Dilansir dari The SUN, obat ini dijual sebagai "cepat larut", "ekstra larut" atau "berbuih". Orangtua dan perempuan lebih cenderung menggunakan obat-obatan dengan garam di dalamnya.
Para ahli mengatakan bahwa beberapa orang dapat melebihi batas garam harian yang direkomendasikan (2g) dengan menggunakan pil setiap hari.
Peneliti utama Profesor Chao Zeng mengatakan: “Orang harus memperhatikan tidak hanya asupan garam dalam makanan mereka tetapi juga tidak mengabaikan asupan garam tersembunyi dari obat di lemari mereka.
“Hasil kami menyarankan untuk meninjau kembali profil keamanan parasetamol effervescent dan larut.”
Tim yang dipimpin oleh Rumah Sakit Xiangya, Central South University, Changsha, China, melihat data kesehatan dari 300.000 orang Inggris berusia antara 60 dan 90 tahun.
Mereka telah diberi resep garam yang mengandung parasetamol atau parasetamol yang tidak mengandung garam – yang dalam bentuk tablet, kapsul atau suspensi oral.
Baca Juga: Tidak Hanya Bagus untuk Otak, Omega-3 Juga Bisa Mengurangi Risiko Penyakit Jantung
Pada mereka dengan tekanan darah tinggi (hipertensi), risiko serangan jantung, stroke atau gagal jantung setelah satu tahun adalah 5,6 persen pada kelompok garam-parasetamol.
Ini dibandingkan dengan 4,6 persen pada mereka dengan hipertensi yang menggunakan parasetamol yang tidak mengandung natrium, menurut temuan yang diterbitkan dalam European Heart Journal.
Di antara mereka yang tidak memiliki hipertensi, risiko penyakit kardiovaskular setelah satu tahun adalah 4,4 persen dibandingkan dengan 3,7 persen. Kematian juga lebih tinggi di antara mereka yang menggunakan parasetamol sarat garam, dengan risiko 7,3 persen dibandingkan dengan 5,9 persen.
Dalam editorial terkait, dua ahli dari The George Institute for Global Health, di Australia, mengatakan ada "kemungkinan jutaan orang di seluruh dunia" menggunakan bentuk parasetamol ini dan "meningkatkan risiko kematian dini".
"Di Inggris saja, pada tahun 2014 ada sekitar 42 juta obat yang mengandung parasetamol yang diresepkan, dengan 200 juta bungkus lagi dijual bebas," kata mereka.
“Ini setara dengan 6.300 ton parasetamol yang dijual setiap tahun di Inggris.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS