Suara.com - Pandemi Covid-19 membuat banyak orang kerap mengabaikan ancaman penyakit lainnya. Terlebih dengan peningkatan kasus ya g dipicu omicron, seolah semua perhatian tertuju pada penyakit tersebut.
Padahal, ada penyakit lain yang juga sebabkan tingkat keparahan bahkan kematian. Salah satunya demam berdarah dengue (DBD) masih menimbulkan korban jiwa. Buktinya baru 2 bulan tahun 2022 berjalan, sudah ada 145 orang meninggal karena DBD.
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ‘dibawa’ oleh nyamuk Aedes Aegypti, ditandai dengan gejala khas seperti demam tinggi tanpa disertai gejala lainnya, tanpa disertai batuk, pilek, ataupun sesak napas.
Hal ini sebagaimana data terbaru yang dirilis Direktorat P2PTVZ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 20 Februari 2022, menunjukan selama 2022 di minggu ke-7 sudah 13.776 kasus infeksi DBD dengan 145 orang di antaranya meninggal dunia.
Dari kasus infeksi DBD itu, pemerintah juga menemukan 21.177 orang dinyatakan suspek DBD atau mengalami gejala sakit yang kemungkinan terinfeksi virus dengue.
Selama dua bulan pertama 2022 juga kasus sudah bertambah 5.618 dari 13 provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan dan Papua Barat
Lalu kematian baru juga bertambah 66 orang di 9 provinsi Sumatera Utara, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Papua Barat.
Adapun selama 2022 Bandung jadi kota tertinggi dengan DBD 598 kasus, kedua Depok dengan 394 kasus, Bogor 347 kasus, Sumedang 347 kasus, dan Cirebon 317 kasus.
"Jika diakumulasi sejak tahun 2021 hingga 20 Februari 2022 sudah ada 71.044 kasus, dengan kematian 690 orang," tulis akun Instagram @p2ptvz, dikutip suara.com, Senin (28/2/2022)
Baca Juga: Omicron Siluman Disebut Lebih Menular, Kenali Berbagai Gejalanya dan Siapa yang Rentan Terinfeksi
Dari data itu, Kemenkes menyimpulkan insiden atau risiko infeksi DBD di Indonesia mencapai 26,1 per 100.000 penduduk. Sedangkan risiko kematian DBD di Indonesia mencapai 0,97 persen.
Selain itu kategori kelompok tertinggi terinfeksi DBD, berada di rentang usia 15 hingga 44 tahun.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!