Suara.com - Bukan hanya orang dewasa, obesitas juga bisa terjadi sejak masa anak-anak. Kalau sudah begitu, diet menurunkan berat badan perlu dilakukan agar anak tidak mengalami komplikasi penyakit akibat kondisi obesitas.
Dokter spesialis anak Dr. Winra Pratita, Sp.A(K) mengatakan, komplikasi akibat obesitas pada anak bisa terjadi dari kepala hingga kaki.
Mulai dari depresi, penyakit jantung, perlemakan hati, hipertensi, nyeri sendi lutut, hingga kaki berbentuk X.
Dokter Winra menyarankan agar orangtua selalu mengarahkan anak yang obesitas untuk melakukan diet secara perlahan dengan sedikit mengurangi jumlah kalori dari pola makannya.
"Kita hitung dulu berapa kalori yang masuk selama ini. Misalnya 3.000 kalori, kita turunkan dulu 200-500 kalori," kata dokter Winra dalam webinar Hari Obesitas dunia bersama Kementerian Kesehatan, Rabu (2/3/2022).
Ia mengingatkan, anak tidak perlu menjalankan diet ketat karena masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.
Menurutnya, target diet yang aman bagi anak cukup 0,5 kg per minggu atau 2 kg per bulan. Berat badan juga tidak harus langsung mencapai angka ideal.
Sehingga, menu makanan anak harus tetap bergizi seimbang meliputi karbohidrat 50-60 persen, lemak 30 persen, dan protein 15-20 persen.
"Jenis makan juga harus yang bisa diterima anak, jangan dipaksa mengonsumsi makanan yang tidak disukai. Harus tinggi serat karena akan membantu pengaturan berat badan dan mengenyangkan, sehingga mengurangi rasa lapar," sarannya.
Baca Juga: Buat Kalian yang Takut Gembrot, Ini Tips Agar Berat Badan Tetap Ideal
Orangtua juga perlu tahu daftar makanan yang sebaiknya dihindari atau hanya boleh dimakan seminggu sekali oleh anak. Pengaturan pola makan diet itu dibagi dalam kategori tiga warna.
Dokter Winra menjabarkan ketiga warna makanan yang sebaiknya dihindari dan boleh dimakan.
1. Makanan Merah
Komposisi: mengandung sedikit vitamin dan mineral tapi tinggi energi, gula, garam, dan lemak.
Pengolahan: Biasanya makanan jenis ini diproses dengan cara digoreng, daging olahan dengan lemak tinggi, makanan penutup dengan bahan dasar susu, dan memakai banyak gula.
Contoh: kentang goreng, sosis, kue manis, cokelat batangan, minuman kemasan, minuman boba, nuget ayam, juga donat, dan lainnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
-
4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius
-
Hantavirus Apakah Sudah Ada di Indonesia? Ini Fakta dan Risiko Penularannya
-
Hantavirus Mirip Flu? Ketahui Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya