Suara.com - Konflik Rusia dan Ukraina semakin memengaruhi kesehatan mental anak-anak di wilayah sekitar. Kondisi perang dapat menyebabkan mimpi buruk, isolasi sosial dan serangan panik.
Dalam laman resminya, Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) melaporkan hampir setiap anak yang terjebak dalam konflik Rusia - Ukraina sekarang dianggap membutuhkan dukungan psikososial.
Inilah yang dialami oleh dua anak asal Ukraina, Illia (15) dan Afina (9).
Mereka mengatakan bahwa hidupnya telah berubah. Apabila bukan karena perang, Illia tidak akan mengalami masalah penglihatan dan melanjutkan pendidikannya.
Meski Afina baru berusia 9 tahun, ia sudah menderita diabetes akibat stres terkait konflik berkepanjangan. Kadar gula darahnya harus diukur tujuh kali sehari, dan keluarganya berusaha membeli insulin untuk Afina.
Hingga kini, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia melaporkan setidaknya tujuh anak telah tewas dan beberapa lainnya terluka selama serangan udara dan ledakan.
"Anak-anak sangat rentan terhadap rasa tidak aman, tidak hanya trauma fisik tetapi juga trauma psikologis, dan itu memiliki dampak untuk waktu lama," jelas profesor pediatri Paul Wise di Universitas Stanford.
Risiko kesehatan mental anak-anak di zona perang
Studi menunjukkan bahwa anak-anak dan keluarga yang tinggal di wialayah perang memiliki peningkatan risiko menderita gangguan kesehatan mental, menurut ABC News.
Baca Juga: Ulasan Buku Ayah yang Dirindukan: Kisah Seorang Anak SD Harus Menanggung Beban Berat
"Kami telah melihat situasi perang masa lalu seperti yang terjadi di Ukraina, peningkatan depresi, kecemasan," kata psikolog klinis Monica Barreto dari Rumah Sakit Anak Orlando Health Arnold Palmer
Meski tidak semua anak akan mengalami trauma, mereka mungkin bereaksi berbeda terhadap situasi traumatis yang mereka lihat.
"Beberapa anak mungkin lebih gelisah, mereka mungkin lebih sulit untuk tenang. Beberapa anak dalam kondisi sepeti ini cenderung menarik diri, mereka tidak banyak menangis, mereka tidak menuntut perhatian," sambungnya.
Bukan berarti anak-anak tersebut mengelola traumanya dengan baik. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan tanda dari hal-hal yang paling dikhawatirkan.
"Karena anak-anak ini menarik diri, mereka menginternalisasi banyak hal yang terjadi," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan