Suara.com - Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama dua tahun. Hingga berita ini ditulis, ada sekitar 449 juta jiwa orang yang pernah terinfeksi Covid-19 di dunia.
Meski demikian, hingga saat ini ada sejumlah orang yang mengaku belum pernah tertular Covid-19. Lantas, bagaimana penjelasan sebenarnya?
Dilansir dari Gavi, CNBC Internasional, bulan lalu, penelitian yang diterbitkan oleh Imperial College London menunjukkan bahwa orang dengan tingkat sel T yang lebih tinggi (sejenis sel dalam sistem kekebalan) dari virus corona flu biasa, lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19.
Dr. Rhia Kundu, penulis pertama studi dari Imperial's National Heart and Lung Institute, mengatakan bahwa "terpapar virus SARS-CoV-2 tidak selalu mengakibatkan infeksi, dan kami ingin memahami alasannya."
"Kami menemukan bahwa tingkat tinggi sel T yang sudah ada sebelumnya, yang dibuat oleh tubuh ketika terinfeksi virus corona manusia lainnya seperti flu biasa, dapat melindungi dari infeksi Covid-19," katanya.
Namun Kundu juga mengingatkan bahwa, "sementara ini adalah penemuan penting, ini hanya salah satu bentuk perlindungan, dan saya akan menekankan bahwa tidak ada yang harus mengandalkan ini sendirian. Sebaliknya, cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari Covid-19 adalah menjadi divaksinasi lengkap, termasuk mendapatkan dosis booster Anda."
Lawrence Young, seorang profesor onkologi molekuler di Universitas Warwick, mengatakan bahwa, "ada banyak minat dalam kasus yang tidak pernah terinfeksi Covid-19 ini - individu yang jelas telah terpapar kontak dekat di rumah mereka yang terinfeksi, tetapi mereka sendiri yang resisten terhadap infeksi."
Dia mengatakan bahwa data awal menunjukkan orang-orang ini secara alami memperoleh kekebalan dari infeksi sebelumnya dengan virus corona flu biasa. Sekitar 20 persen infeksi flu biasa disebabkan oleh virus corona flu biasa, katanya, "tetapi mengapa beberapa individu mempertahankan tingkat kekebalan reaktif silang masih belum diketahui."
Selain tingkat kekebalan yang diberikan oleh paparan sebelumnya terhadap coronavirus — keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit atau infeksi yang lebih parah — status vaksinasi Covid seseorang juga kemungkinan menjadi faktor apakah beberapa orang lebih rentan terhadap Covid daripada yang lain.
Baca Juga: Akses Tidak Merata, Pakar: Pendanaan Negara Pengaruhi Ketersediaan Vaksin
Peran Vaksin
Di Indonesia sendiri kini telah 70 persen target populasi telah mendapatkan dosis vaksin Covid-19 lengkap. Vaksin booster juga telah diberikan sejak beberapa waktu lalu.
Vaksin Covid telah terbukti mengurangi infeksi parah, rawat inap dan kematian, dan sebagian besar tetap efektif melawan varian virus yang diketahui. Namun, mereka tidak 100% efektif dalam mencegah infeksi dan kekebalan yang mereka berikan berkurang dari waktu ke waktu, dan telah dikompromikan oleh varian omicron.
Andrew Freedman, seorang akademisi penyakit menular di Cardiff University Medical School, mengatakan bahwa mengapa beberapa orang terkena Covid dan yang lainnya tidak "adalah fenomena yang dikenal baik dan mungkin terkait dengan kekebalan dari vaksinasi, infeksi sebelumnya atau keduanya."
Faktor genetik
Pertanyaan lain yang muncul selama pandemi adalah mengapa dua orang dengan Covid dapat merespons infeksi dengan sangat berbeda; satu bisa memiliki gejala berat, misalnya, dan yang lainnya bisa tanpa gejala. Jawabannya mungkin terletak pada gen kita.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
Terkini
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?
-
Apa Itu Food Genomics, Diet Berbasis DNA yang Lagi Tren
-
Bosan Liburan Gitu-Gitu Aja? Yuk, Ajak Si Kecil Jadi Peracik Teh Cilik!
-
Menkes Tegaskan Kusta Bukan Kutukan: Sulit Menular, Bisa Sembuh, Fatalitas Hampir Nol
-
Kabar Gembira! Kusta Akan Diskrining Gratis Bareng Cek Kesehatan Nasional, Ini Rencananya
-
Era Baru Dunia Medis: Operasi Jarak Jauh Kini Bukan Lagi Sekadar Imajinasi
-
Angka Kematian Bayi Masih Tinggi, Menkes Dorong Program MMS bagi Ibu Hamil
-
Gaya Hidup Sedentari Tingkatkan Risiko Gangguan Muskuloskeletal, Fisioterapi Jadi Kunci Pencegahan
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda