Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengkonfirmasi kemungkinan munculnya virus corona Covi-19 rekombinan. Pekan lalu, WHO telah mengkonfirmasi munculnya virus rekombinan baru yang merupakan kombinasi dari strain BA.1 dan BA.2 Omicron.
Pada 19 Maret, WHO men-tweet penjelasan tentang rekombinan Delta AY.4 dan Omicron BA.1.
"Rekombinan bisa muncul karena #SARSCoV2 tersebar luas di antara manusia dan banyak spesies hewan sekarang. Pengujian, pengawasan (termasuk ILI & SARI), pengurutan & berbagi data masih penting untuk melacak pandemi & mengambil tindakan dini ketika varian baru muncul," kata Kepala Ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan, dikutip dari Times of India.
Kombinasi varian virus corona Omicron dan Delta dikenal sebagai rekombinan, kata Dr Maria Van Kherkhove, Ahli Epidemiologi Penyakit Menular dan Pimpinan Teknis Covid-19 WHO. Sesuai laporan penelitian, ini memiliki protein lonjakan dan struktural dari BA.1 dan bagian genom yang tersisa dari Delta.
WHO telah memperingatkan terhadap munculnya virus rekombinan. Sebelum ini, juga telah mengkonfirmasi munculnya rekombinan strain BA.1 dan BA.2 dari Omicron. Rekombinan ini ditemukan pada dua penumpang di Israel. Rekombinan ini terdeteksi melalui metode RT PCR, metode standar emas untuk mendeteksi virus corona sejauh ini.
Tidak diragukan lagi, rekombinasi memperluas jangkauan virus dengan membawa lebih banyak virus baru. Ini membantu evolusi virus, sehingga menempatkan lebih banyak tantangan di hadapan para peneliti dan ahli.
"Rekombinasi adalah fenomena yang tersebar luas pada virus dan dapat berdampak besar pada evolusinya. Memang, rekombinasi telah dikaitkan dengan perluasan jangkauan inang virus, munculnya virus baru, perubahan kekhususan vektor transmisi, peningkatan virulensi dan patogenesis. , modifikasi tropisme jaringan, penghindaran kekebalan inang, dan evolusi resistensi terhadap antivirus," menunjukkan studi penelitian.
Lalu, apakah virus rekombinan lebih parah daripada strain leluhurnya?
Sampai sekarang, tidak ada yang bisa dikatakan. "Ya, kami mengetahui rekombinan ini. Ini adalah kombinasi dari Delta AY.4 dan Omicron BA.1. Telah terdeteksi tetapi tingkat deteksinya sangat rendah," kata Dr Kerkhove.
Baca Juga: Asyik! Pemerintah Bakal Longgarkan Pembatasan Salat Tarawih Hingga Mudik
Ia menambahkan bahwa masih belum melihat adanya rekombinan ini." perubahan epidemiologi atau keparahan mengenai rekombinan.Tetapi ada berbagai penelitian yang sedang berlangsung.
Namun, perlu dicatat bahwa varian Delta dan Omicron dari coronavirus sangat menular sehingga sistem manajemen perawatan kesehatan hampir lumpuh selama gelombang infeksi yang disebabkan oleh dua jenis ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga