Suara.com - Indonesia masih menempati urutan ketiga kasus tuberkulosis atau TB terbanyak dunia, hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencanangkan skrining TBC besar-besaran.
Menariknya menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes, Dr. drh. Didik Budijanto bahwa skrining TBC besar-besaran ini akan menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau intelligence artificial alias AI.
Adapun TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis di paru-paru.Kondisi ini, kadang disebut juga dengan TB paru. Bakteri tuberkulosis yang menyerang paru-paru menyebabkan gangguan pernapasan, seperti batuk kronis dan sesak napas.
"Mudah-mudahan berhasil, berhasil besar-besaran yang transformasional dengan memanfaatkan peralatan AI untuk berikan hasil diagnosis TBC yang lebih cepat dan efisien," ujar Dr. Didik dalam diskusi Kemenkes memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia 2022, Selasa (22/3/2022).
Alat AI yang dipersiapkan untuk skrining TBC yakni berupa X-Ray yang nampak seperti sajadah atau karpet yang bisa diletakan di atas dan di bawah tubuh pasien terduga memiliki bakteri TB di tubuhnya.
"Sedang diupayakan pengadaan alat tersebut bisa segera," tutur Dr. Didik.
Sayangnya, saat ditanya lebih jauh terkait kapan realisasi dan praktik skrining besar-besaran bakal diluncurkan, Dr. Didik belum bisa memastikan lebih lanjut. Namun ia berharap skrining bisa segera di lakukan di tahun 2022.
"Tentang kapannya, tepatnya, tentu saja pada tahun ini kita upayakan karena proses masih terus berjalan," tuturnya.
Adapun program skrining besar-besaran ini ditujukan untuk mengejar gap atau jarak kasus dugaan TBC yang berkisar sebanyak 800 ribu kasus. Namun yang ditemukan dan mendapatkan pengobatan baru ada sebanyak 500 ribu kasus.
Baca Juga: Selain Covid, Pemerintah Juga Khawatir Tingginya Penularan TBC
"Dengan ditemukannya sekian gap 300 ribu, ini akan mempercepat target global, di 2030 kita bisa eliminasi TBC, oleh karena itu salah satu upaya dengan menemukan secara cepat kemudian diobati, kontak tuntas 100 persen, ini target kita menyelesaikan di tahun 2030," tutup Dr. Didik.
Tag
Berita Terkait
-
Mantan Wali Kota Cilegon Singgung Janji Politik Helldy Agustian, Ancam Pecat Dewan Fraksi Golkar yang Tak Kritis!
-
Komandan Kompi Distrik Gome Diproses Secara Hukum, Anggota DPR Dukung Langkah Andika Perkasa
-
5 Arti Mimpi Sakit Tuberkulosis alias TBC: Tak Hanya Soal Nasib Kehidupan Anda, Tapi Juga Orang Lain
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?