Suara.com - Ahli urologi dan ahli bedah panggul, Dr. Rena Malik melalui unggahan Youtube, mengatakan bahwa ia berharap semua orang bisa memiliki kehidupan seksual yang aman dan sehat.
Dalam sebuah video, ia membahas masalah seksual mengenai disfungsi ereksi yang cukup mempengaruhi kehidupan seksual seseorang.
Meskipun, ada sejumlah masalah fisiologis yang bisa menyebabkan disfungsi ereksi. Malik menambahkan bahwa faktor psikologis juga bisa memicu masalah kesehatan seksual tersebut.
Malik pun mengkategorikan disfungsi ereksi menjadi 3 jenis berbeda, yakni disfungsi ereksi refleksif yang disebabkan oleh rangsangan fisik, nokturnal yang terjadi saat tidur dan psikogenik yang dipicu oleh kondisi mental atau keinginan.
Menurut Malik, pola pikir sama pentingnya dengan komponen hormonal dan neurologis dalam hal mencapai dan mempertahankan ereksi.
"Disfungsi ereksi piskogenik adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi saat berhubungan seks karena faktor psikologis," kata Malik dikutip dari Mens Health.
Kondisi ini bisa mencakup hal-hal mengenai harga diri, depresi, kecemasan, dan masalah hubungan. Faktanya, gangguan kesehatan mental dan disfungsi ereksi sangat sering dikaitkan.
Malik mengutip penelitian yang menemukan bahwa orang yang mengalami disfungsi ereksi secara tidak proporsional lebih mungkin untuk menghadapi gejala depresi dan stres emosional.
Tetapi, persoalan depresi bisa menyebabkan disfungsi ereksi atau tidak, Malik mengatakan itu bisa terjadi dari dua arah.
Baca Juga: Gara-Gara Omicron, Kasus Harian Covid-19 China Meningkat Jadi Lebih Banyak Dibanding 2020
Orang yang depresi mungkin memiliki dorongan seks rendah dan kesulitan untuk berhubungan dengan pasangannya.
Di sisi lain, orang dengan disfungsi ereksi juga mungkin akhirnya merasa tertekan karena depresi karena pengaruhnya terhadap kehidupan seks mereka.
Jika disfungsi ereksi menjadi isu baru yang tiba-tiba, itu juga merupakan petunjuk bahwa penyebabnya mungkin psikologis.
"Sedangkan orang yang memiliki penyebab medis disfungsi ereksi, biasanya terjadi lebih bertahap," jelasnya.
Salah satu pengobatan umum untuk disfungsi ereksi psikogenik adalah terapi perilaku kognitif (CBT), yang berfokus pada pemahaman, pengelolaan, dan pembingkaian kembali harapan individu tentang hubungan seksual.
Pilihan lainnya adalah terapi seks dengan latihan sensate focus, yang fokus pada kenikmatan sentuhan di luar ekspektasi seks.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026