Suara.com - Beberapa waktu lalu, Maia Estianty dilarikan ke rumah sakit oleh putra bungsunya Gul Jaelani karena merasa nyeri di ulu hati.
Setelah diperiksa, ternyata Maia menderita GERD dan kondisinya diperparah dengan adanya batu empedu sebesar 2 sentimeter.
"Oh ini karena batu ini, batu empedunya. Dari batu empedunya bikin sakit," kata dokter, mengutip cuplikan video YouTube, Selasa (5/4/2022).
Dokter pun menyarankan Maia untuk menjalani operasi karena ini satu-satunya cara menghilangkan batu empedu dan mengurangi sakit GERD.
Menurut dokter, batu empedu tidak dapat dihilangkan hanya dengan pengobatan alternatif saja, seperti memakan apel.
Apa indikasi operasi batu empedu?
Batu empedu terbentuk karena penumpukan kolesterol dan bilirubin di kantung empedu akibat cairan empedu tidak mampu melarutkannya, menurut Alodokter.
Umumnya, batu empedu yang berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala tidak perlu mendapat intervensi medis. Namun jika penderita merasakan sakit perut yang muncul tiba-tiba, maka tindakan perawatan perlu dilakukan.
Menghilangkan batu empedu bisa melalui dua metode, yakni operasi pengangkatan kantung empedu (kolesistektomi) atau konsumsi obat. Namun, penggunaan obat jarang dilakukan karena kurang efektif.
Baca Juga: Maia Estianty Menderita Batu Empedu: Bagaimana Penyakit Terbentuk dan Apa Pengobatannya?
Dokter akan menyarankan operasi bila batu empedu berukuran besar dan memenuhi ruang dalam kantung empedu. Bisa juga ketika batu empedu telah menyumbat saluran empedu.
Bagaimana operasi batu empedu?
Operasi batu empedu disebut kolesistektomi, yang meliputi pengangkatan seluruh kantung empedu sekaligus batu di dalamnya.
Kantung empedu merupakan organ kecil terletak di perut kanan atas, tepatnya di bawah hati. Fungsinya adalah untuk menyimpan cairan empedu yang diproduksi hati dan mencerna kolesterol dari makanan.
Walau seluruh kantung diangkat, hati tetap memproduksi cairan empedu untuk mencerna mkanan dan memecah lemak tanpa perlu disimpan seperti biasanya.
Bardasarkan Hello Sehat, ada dua metode operasi kolesistektomi, yakni:
- Kolesistektomi terbuka atau open cholecystectomy
Disebut operasi kolesistektomi terbuka karena prosedur melibatkan membuat sayatan cukup besar, yakni sekitar 13 hingga 18 sentimeter di perut.
Durasi prosedur ini cukup lama karena sayatan besar tersebut. Biasanya pasien akan dirawat di rumah skait selama 3 hingga 5 hari setelah operasi.
Setelah dipulangkan, pasien harus beristirahat sekitar 6 hingga 8 minggu untuk pulih total.
- Kolesistektomi dengan laparoskopi atau laparoscopic cholescystectomy
Operasi batu empedu jenis ini minim sayatan dan biasanya hanya berjalan sekitar satu hingga dua jam.
Dokter akan membuat empat sayatan kecil di perut dan memasukkan alat panjang yang dipasangi kamera ke empedu.
Pemulihan prosedur ini tidak membutuhkan banyak waktu karena operasi ini jauh lebih ringan daripada operasi kolesistektomi terbuka.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga