Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkritik strategi nol Covid yang ditargetkan China dalam penanganan pandemi. Menurut WHO, strategi itu tidak baik secara jangka panjang dan China diminta untuk mengubah kebijakannya.
China dinilai telah melakukan tindakan kejam karena mengurung populasi sebanyak 25 juta orang di Kota Shanghai selama berminggu-minggu.
Penguncian di Shanghai telah menyebabkan kemarahan dan protes yang jarang terjadi selama ini. Selain itu, mobilitas di ibukota Beijing juga perlahan-lahan telah dibatasi.
"Ketika kami berbicara tentang strategi nol-Covid, kami tidak berpikir itu berkelanjutan, mengingat perilaku virus sekarang dan apa yang kami antisipasi di masa depan," kata kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, dikutip dari Channel News Asia.
WHO telah membahas hal tersebut dengan para ahli China. Menurut Tedros, transisi ke strategi lain akan sangat penting dilakukan.
Ada dinamika politik yang mendesak untuk tanggapan virus Tiongkok, dengan Presiden Xi Jinping mengelompokkan legitimasi kepemimpinannya dalam melindungi kehidupan Tiongkok dari Covid-19.
Kebijakan nol-Covid di China dinilai telah menggulung ekonomi yang beberapa bulan lalu telah bangkit kembali dari pandemi.
"Kita perlu menyeimbangkan tindakan pengendalian terhadap dampaknya pada masyarakat, terhadap ekonomi, dan itu tidak selalu merupakan kalibrasi yang mudah," kata direktur kedaruratan WHO Michael Ryan.
Dia mengatakan tindakan apa pun untuk memerangi pandemi Covid-19 harus menunjukkan penghormatan terhadap individu dan hak asasi manusia.
Baca Juga: Kali Pertama sejak Gelombang Omicron, di Shanghai 3 Pasien Covid-19 Meninggal Dunia
Sementara itu, pimpinan teknis WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove mengatakan bahwa tidak mungkin menghentikan semua penularan virus di seluruh dunia.
"Tujuan kami, di tingkat global, bukan untuk menemukan semua kasus dan menghentikan semua penularan. Itu benar-benar tidak mungkin saat ini. Tetapi yang perlu kita lakukan adalah menurunkan transmisi karena virus beredar pada tingkat yang begitu intens," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
Pilihan
-
Pertamina Mau Batasi Pembelian LPG 3 Kg, Satu Keluarga 10 Tabung/Bulan
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Purbaya Hadapi Tantangan Kegagalan Mencari Utang Baru
-
5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
Terkini
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink
-
Ibu Tenang, ASI Lancar: Kunci Menyusui Nyaman Sejak Hari Pertama
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal
-
Waspada Penurunan Kognitif! Kenali Neumentix, 'Nootropik Alami' yang Dukung Memori Anda
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?