Suara.com - Data Kementerian Kesehatan tercatat bahwa 70 persen penyebab kematian di Indonesia akibat penyakit tidak menular (PTM). Seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hipertensi, penyakit paru, hingga kanker.
Sekertaris Umum Aliansi PTM Indonesia dr. Ade Meidian Ambari, Sp.Jp., mengungkapkan bahwa ada empat faktor yang jadi penyebab paling umum seseorang terkena PTM.
"Terutama nomor satu adalah merokok. Kita tahu bahwa rokok merupakan problem yang sangat besar di Indonesia. Kalau kita lihat pasien yang masuk ke rumah sakit pusat Jantung Harapan Kita, 70 persen pasien serangan jantung itu adalah perokok yang masuk emergensi," kata donter Ade dalan webinar Aliansi PTM Indonesia, Rabu (18/5/2022).
Dokter Ade juga mengungkapkan kalau penyakit yang disebabkan karena rokok telah menyita banyak uang jaminan kesehatan dari negara.
"Beban biaya kesehatan akibat penyakit yang disebabkan rokok saja sebesar Rp 17,9 triliun sampai Rp 27,9 triliun dalam satu tahun. Dibandingkan harga cukai rokok, biaya yang dikeluarkan akibat penyakit yang disebabkan rokok itu jauh lebih besar," ujarnya.
Faktor kedua penyebab PTM karena pola makan. Menurut dokter Ade, masyarakat Indonesia saat ini terlalu banyak konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Kebiasaan seperti itu bisa memicu timbulnya penyakit diabetes, hipertensi, juga kolesterol tinggi.
"Orang Indonesia cenderung makan yang asin dengan kadar natrium yang tinggi. Kemudian konsumsi lemak jenuh kita selalu beranggapan bahwa kita selalu suka makanan yang digoreng," ujarnya.
Kemenkes telah memberikan batasan asupan per hari untuk gula, garam, dan lemak. Yaitu, maksimal 4 sendok makan untuk gula, 1 sendok teh gram, dan 5 sendok makan minyak.
Kebanyakan penyakit tidak menular itu juga disebut sebagai penyakit katastropik atau yang membutuhkan biaya pengobatan besar.
Baca Juga: Gegara Rokok Dua Anggota Satpol PP Cilegon Berkelahi
Dokter Ade mengatakan, mayoritas biaya rawat inap dan perawatan pasien PTM yang harus ditanggung BPJS kesehatan juga makin membengkak karena adanya beban komplikasi tambahan akibat penundaan perawatan selama pandemi Covid-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini