Baru-baru ini, Otoritas Badan Makanan dan Obat-obatan Taiwan menolak masuk kapal pengangkut mie instan yang berasal dari Indonesia. Ditolaknya mie instan asal Indonesia tersebut dikarenakan tingkat kandungan residu pestisida yang melebihi batas maksimum.
Indonesia bukan negara satu-satunya yang ditolak oleh Taiwan, beberapa produk mie instan asal Filipina dan Jepang juga ikut ditolak. Barang-barang yang ditolak tersebut dikembalikan ke negara asal atau dimusnahkan.
Lalu, seperti apa bahaya residu pestisida yang terkandung pada mie instan tersebut? Simak informasi lengkapnya berikut ini.
Diketahui, pestisida banyak digunakan dalam produksi makanan untuk mengendalikan hama seperti serangga, tikus, gulma, bakteri, dan juga jamur.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa makanan yang dijual harus mematuhi peraturan pestisida, khususnya dengan batas residu maksimum.
Dosis yang tinggi pada pestisida sintetik maupun organik, memiliki efek kesehatan yang berbahaya dibandingkan yang biasanya ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran.
Dampak yang paling menonjol dari paparan pestisida yaitu adanya peningkatan risiko penyakit alzheimer, dan beberapa penelitian juga menunjukkan penggunaan pestisida dapat dikaitkan dengan jenis kanker tertentu.
Dalam beberapa penelitian juga disebutkan bahwa peningkatan paparan organofosfat dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi secara signifikan untuk kanker terkait hormon seperti misalnya kanker payudara, tiroid, dan ovarium.
Paparan pestisida organofosfat seperti malathion, terbufos, dan klorpirifos dikaitkan terhadap risiko lebih tinggi terkena kanker payudara dalam jangka panjang. Beberapa penelitian lain juga menyebutkan bahwa ada kemungkinan lain dari penggunaan pestisida yaitu peningkatan risiko beberapa jenis kanker lainnya seperti kanker prostat, paru-paru, dan hati.
Baca Juga: Jokowi Minta Masyarakat Bersyukur Karena Harga Beras Tidak Ikut Naik
Diketahui, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, anak-anak lebih rentan mendapatkan efek negatif. Paparan pestisida pada anak-anak berpeluang tinggi memicu kemunculan kanker, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan autisme.
Bahkan, paparan pestisida tingkat rendahnya pun bisa berpengaruh negatif pada perkembangan neurologis dan perilaku sang anak.
Peneliti sempat melakukan penelitian yang melibatkan sebanyak 1.139 anak. Peneliti menemukan kemungkinan 50-90 persen adanya peningkatan ADHD pada anak-anak dengan kadar pestisida urin tertinggi dibandingkan dengan yang memiliki kadar urin terendah.
Dalam penelitian tersebut, tidak diketahui secara pasti apakah pestisida yang terdeteksi dalam urin tersebut berasal dari produk atau paparan lingkungan lainnya. Adapun paparan prenatal terhadap jenis pestisida tertentu dikaitkan dengan kemungkinan gangguan spektrum autisme yang lebih tinggi terutama jika paparan terjadi dalam tahun pertama kehidupan.
Kandungan pestisida sendiri sebenarnya bisa dikurangi dengan cara memasak ataupun mengolah makanan sebelum dikonsumsi. Pada buah dan sayuran, untuk mengurangi kandungan pestisida tersebut maka harus dikupas atau dipotong di bagian kulit meskipun bisa mengurangi nilai gizi.
Kontributor : Syifa Khoerunnisa
Berita Terkait
-
Jokowi Minta Masyarakat Bersyukur Karena Harga Beras Tidak Ikut Naik
-
5 Fakta Taiwan Menolak Mi Instan Indonesia, Kandungan Residu Pestisida Melebihi Batas?
-
Heboh Mi Instan Asal Indonesia Dilarang Beredar di Taiwan karena Dianggap Mengandung Residu Pestisida
-
Viral Mi Instan Asal Indonesia Dilarang Masuk ke Taiwan, Apa Sebab?
-
Mi Instan Indonesia Ditolak Masuk Otoritas Taiwan
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini