Suara.com - Bayi prematur dengan bayi lahir berat badan rendah umumnya memiliki fisik yang sama-sama kecil. Meski begitu, definisi antara kedua kondisi bayi tersebut berbeda.
Dokter Anak Konsultan Neonatologi Profesor Rinawati Rohsiswatmo mengatakan, bayi dengan berat badan lahir rendah atau BBLR belum tentu prematur. Akan tetapi, bayi prematur kemungkinan besar akan alami BBLR.
"Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum waktunya, sehingga umumnya beratnya kecil. Karena pertumbuhannya di dalam janin belum optimal tapi dia sudah keluar," jelas Profesor Rina dalam media briefing Fresenius Kabi, Senin (25/7/2022).
Sedangkan BBLR, bayi lahir cukup waktu atau berkisar antara 38-42 minggu usia kehamilan. Akan tetapi, pertumbuhannya di dalam janin tidak optimal sehingga saat lahir tubuhnya terlalu kecil.
Menurut Profesor Rina, kondisi tersebut masih banyak terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dikatakan BBLR apabila berat badan bayi saat lahir kurang dari 2.500 gram.
Masalah lain di Indonesia juga masih ditemui bayi yang lahir prematur ditambah lagi berat badannya tidak sesuai dengan pertumbuhan normal janin. Kondisi tersebut bisa terjadi akibat kekurangan gizi selama di dalam janin.
"Jadi mestinya dia 32 minggu beratnya 1.500 gram, tapi ternyata beratnya hanya delapan ons (800 gram). Jadi bebannya dua, sudah belum waktunya, beratnya belum sempurna, dan kekurangan gizi juga sehingga badannya kecil," jelasnya.
Data Kementerian Kesehatan berdasarkan survei Status Gizi Anak tahun 2021 tercatat bahwa hampir 30 persen atau satu dari tiga bayi di Indonesia lahir prematur. Sementara angka BBLR sebanyak 6,6 persen.
Kedua kondisi bayi tersebut perlu menjadi perhatian karena baik bayi prematur maupun BBLR berisiko lebih tinggi menjadi stunting atau gagal tumbuh.
Baca Juga: Lupa Bawa Dalaman Hijab, Emak-Emak Beri Tips Kocak Gantinya Pakai Barang Ini
"Sebuah penelitian di 137 negara berkembang disebutkan bahwa 32,5 persen kasus stunting disebabkan oleh kelahiran prematur. Sedangkan di Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2018, bayi dengan berat lahir rendah mempengaruhi sekitar 20 persen terjadinya stunting," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?