Suara.com - Cara mendidik dan memantau tumbuh kembang anak tentunya harus dilakukan sejak dini supaya mengalami pertumbuhan yang bagus di usianya tersebut. Itulah mengapa ketika anak sudah memasuki masa emas atau yang dikenal dengan golden age tentunya harus memperoleh perhatian lebih dari setiap orang tuanya.
Tidak hanya memberikan didikan yang baik untuk anak namun juga orang tua harus melakukan pemantauan terhadap tumbuh kembang anak secara rutin. Dengan persiapan semuanya yang sudah matang dan pemantauan secara tepat tentunya bisa membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih bagus di usianya.
Cara Mendidik dan Memantau Tumbuh Kembang Anak
1. Melihat kondisi anak setiap hari
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam memantau pertumbuhan dari anak desa dengan melihat kondisinya secara mandiri di rumah yang dilakukan setiap hari. Perhatikanlah pergerakan anak ketika sedang berbicara ataupun bermain.
Sebagai orang tua juga bisa memberikan stimulasi secara tepat terhadap tahapan usianya sehingga dapat membantu dalam memantau tumbuh kembangnya secara mandiri. Jika nantinya ditemukan beberapa hal tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak di usianya tentunya bisa menjadi langkah awal untuk mengatasi kondisinya ke dokter.
2. Rajin mengajak anak mengobrol
Dilansir dari popmama.com, pada 1000 hari pertama kehidupan merupakan tonggak utama bagi anak supaya berkembang dengan pesat termasuk dari segi keterampilan bahasa. Mengingat setiap bahasa dijadikan sebagai indikator utama serta bekal untuk anak nantinya dan kiat yang satu ini bisa dimulai dari orang tua sebagai guru utamanya.
Langkah awal untuk mengajak ngobrol anak bisa dilakukan secara rutin karena nantinya bisa membantu dalam meningkatkan kecerdasan dan mendorong kemampuan anak dalam memahami setiap bahasa. Anak akan lebih mengenal setiap kata yang telah disampaikan oleh orang tuanya khususnya dalam menyampaikan ekspresi yang telah dirasakan.
3. Melakukan intervensi dan stimulasi deteksi sejak dini
Adanya sepi intervensi dan stimulasi deteksi ini bisa membantu dalam meningkatkan tumbuh kembang anak. Melalui pemeriksaan bisa dilakukan dalam beberapa kali dengan menyesuaikan usia dari anak tersebut.
Pada usia anak 3 bulan hingga 2 tahun biasanya memperoleh stimulasi deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang setiap 3 bulan. Sementara itu, untuk usia 2 hingga 6 tahun biasanya memperoleh di setiap 6 bulan.
4. Paham terhadap dimensi tumbuh kembang anak
Cara mendidik dan memantau tumbuh kembang anak sejak dini yang dapat dilakukan dengan memahami terlebih dahulu bagaimana dimensi dari tumbuh kembang anak yang harus diperhatikan oleh orang tua. Dalam hal ini terdapat 5 dimensi yang sifatnya bisa saling melengkapi untuk melakukan pemantauan terhadap tumbuh kembang anak.
Baca Juga: Pelajar SMP Dansa Dituduh Generasi Rusak, Ini Klarifikasi Pihak Sekolah
Beberapa diantaranya yaitu kesehatan, kognitif, motorik, bahasa, dan sosio emosional. Dari adanya lima dimensi tersebut bisa dipahami terlebih dahulu oleh orang tua ketika ingin memberikan pendidikan dini dan melihat tumbuh kembang anak yang lebih baik.
5. Perhatikan pedoman gizi seimbang
Tidak hanya memberikan stimulasi akan tetapi juga perlu memperhatikan pedoman gizi yang seimbang untuk anak. Pastikanlah sebagai orang tua telah memberikan asupan nutrisi dan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti halnya protein, zat besi, vitamin, mineral dan folat.
Sebagai orang tua bisa dengan memberikan sejumlah makanan pada buah hatinya supaya dapat menunjang kinerja pada otak yang nantinya dapat meningkatkan kecerdasannya.
Seperti dengan memberikan makanan berupa pepaya, sayuran hijau, alpukat, pisang, labu, telur dan ikan. Setiap makanan bergizi yang diberikan kepada anak tentunya bisa membantu dalam menjaga tumbuh kembang anak secara optimal dengan kandungan nutrisi dari setiap makanan yang dikonsumsinya.
Itulah beberapa cara mendidik dan memantau tumbuh kembang anak secara rutin yang dilakukan mandiri di rumah. Dengan pola asuh yang benar tentunya bisa mendapatkan tumbuh kembang anak secara optimal dari didikan utama yang telah diberikan oleh orang tuanya.
Berita Terkait
-
Viral Chiki Ngebul Bikin Anak Keracunan, Sebenarnya Aman Dimakan Nggak Sih? Dokter Anak Ungkap Faktanya
-
Yuk Menjadi Orang Tua Suportif, Ini 10 Cara Meningkatkan Harga Diri Anak
-
3 Cara Mengatasi Kebiasaan Berbohong pada Anak, Orang Tua Wajib Tahu!
-
Verrel Bramasta Beberkan Video Ferry Irawan Nangis, Netizen Sebut sedang Akting
-
Penculik dan Pembunuh Anak di Makassar Pelajari Penjualan Organ Tubuh Manusia Sejak Kelas 3 SMP
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker
-
Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi