Suara.com - Orang tua yang sudah lanjut usia atau lansia kerap kali mengalami perubahan emosi yang drastis. Kondisi itu bisa menyebabkan sikap mereka jadk sulit dipahami oleh anggota keluarga yang lebih muda.
Psikolog Tara de Thouars menjelaskan bahwa memasuki usia lanjut, manusia memang bisa alami perubahan sikap secara ekstrim dari satu sisi ke sisi lainnya.
"Bisa menolak tua jadi akan merasa, 'saya tetap kuat, gak mau minum obat karena kalau minum obat menandakan tua, lemah'. Atau titik ekstrim lainnya yang menjadi putus asa, depresi, merasa tidak berguna. Dua titik ekstrim itu gak ideal," kata Tara saat konferensi pers bersama Anlen di Jakarta, Rabu (15/3/2023).
Selain itu, lansia juga kerap bertingkah seperti anak-anak yang mudah tantrum. Bila sudah begitu, Tara menyarankan untuk mengenali terlebih dahulu emosi yang paling dominan dirasakan oleh lansia.
Sebab, emosi yang dirasakan oleh mereka sebenarnya dampak dari stres akibat berbagai perubahan fisik dan lainnya yang terjadi secara normal akibat penuaan. Sehingga tidak semua lansia bisa menerima perubahan kondisi tersebut.
"Yang perlu kita perhatikan adalah emosi apa yg paling dominan, apakah cemas, marah, atau sedih. Karena mengatasi ketiga emosi itu caranya berbeda," ujarnya.
"Kalau lagi banyak cemas, misalnya 'aduh harus nabung banyak nih, nanti kalau aku sakit gimana'. Ketika menghadapi orang yang sedang cemas yang dibutuhkan adalah rasa aman," jelas Tara.
Rasa aman yang diberikan, lanjut Tara, bisa dengan menenangkan orang tua dan memberinya penjelasan kalau kecemasan yang mereka pikirkan belum tentu terjadi.
Sementara itu, apabila dominan rasa sedih, umumnya orang tua akan merasa putus asa, depresi, hingga tidak berguna.
Baca Juga: Berniat Jual Rumah, Pak Edy Tak Akan Lepas Barang Kesayangan, Kenang Mendiang Anak?
"Kalau seperti itu kita perlu angkat orang tua kita. 'Mama itu masih hebat, lho. Mama masih jago masak, aku aja gak bisa masak'," contoh Tara.
Apabila orang tua lebih dominan marah, menurut Tara, biasanya disebabkan karena belum bisa menerima kondisinya yang sudah mencapai lansia.
"Kalau seperti itu yang bisa dilakukan adalah bantu orang tua untuk accept. 'Gak apa-apa tua juga, gak apa-apa kok, mah. Aku kan tetap sayang mama'. Jadi bagaimana kita perlakukan orang bisa dilihat dari emosinya," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!