Suara.com - Dekan Fakultas Kedokteran dan Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Ari Fahrial Syam menjawab soal isu cacian bullying dokter junior di grup WhatsApp dokter Indonesia.
Menurut Prof. Ari, sangat disayangkan Menteri Kesehatan Budi mempublikasi isi percakapan yang bahkan dirinya sebagainya dosen tidak mengetahui chat yang ada di grup WhatsApp tersebut.
"Dalam lingkup pertemanan pasti ada saja yang tidak suka apalagi ini di lingkungan jaringan WhatsApp senior dan junior. Saya merasa ini, jika ini dibuka ke publik," ungkap Prof. Ari dalam diskusi IDI, Selasa (25/7/2023).
Dekan yang juga Profesor Penyakit Dalam di RS Cipto Mangungkusomo (RSCM) mengakui bahwa dirinya yang ada dalam satu lingkungan pendidikan dengan para dokter junior itu, tidak bisa masuk dalam grup WhatsApp tersebut.
Menurutnya keberadaan grup WhatsApp berupa Jarkom atau jaringan komunikasi adalah hal yang wajar dan lumrah, ditujukan agar lebih mudah saling berkoordinasi terkait praktik, tugas jaga, atau berbagi informasi seputar kesehatan dan pasien.
"Itu grup antar mereka (dokter muda) berkonunikasi. Tapi kami selalu ingatkan untuk dokter senior harus membimbing junior dengan baik, termasuk bagaimana mereka berkomunikasi dengan baik," jelas Prof. Ari.
Namun adapun bentuk cacian di Grup WhatsApp yang dimaksud Menkes Budi, Prof. Ari menduga memang ada orang yang tersinggung atau nyaman. Atau adanya kesalahpahaman intonasi antara bicara dengan chat.
"Dalam komunikasi sesama kita bisa aja muncul, ada orang tersinggung, yang bersangkutan tidak nyaman, itu bisa terjadi. Saya jika komunikasi dalam chat ada yang tidak nyaman, lalu ketika ditelepon baru diketahui maksudnya dan jadi clear. Ini hal yang seperti ini sesuatu yang harusnya tidak diperbesar," jelas Prof. Ari.
Adapun terkait chat bernada cacian Prof. Ari menduga, itu adalah salah satu percakapan antar teman yang terkadang ada kalimat 'hujatan'. Tapi nikah yang melihat kalimat ini orang lain, mereka bisa jadi tidak mengerti dan terlihat seperti saling menjelekan.
Baca Juga: Parahnya Bullying di Pendidikan Kedokteran, Senior Palak Junior Hingga Ratusan Juta
"Saya sedih aja, hal seperti ini diungkap di publik," pungkas Prof. Ari.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin praktik bullying dokter di rumah sakit pendidikan milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengakar dan berlangsung puluhan tahun di Indonesia, yang umumnya dilakukan dokter senior kepada dokter junior dengan cara melakukan tugas yang tidak berhubungan dengan pendidikan kedokteran yang ditempuhnya.
Bullying ini berupa suruhan atau tugas dari dokter senior kepada juniornya yang bersifat pribadi, dan tidak berhubungan dengan pendidikan kedokteran di rumah sakit tersebut.
"Akhirnya mesti ambilin sendok plastik 200 jam 12 malam karena ada makan-makan di tempat seniornya, kalau enggak nanti di WA grupnya ada yang namanya jarkom. Harus lihat jarkom sebagai prioritas nomor satu," jelas Menkes Budi saat konferensi pers di Kemenkes beberapa waktu lalu.
"Perannya (Grup WhatsApp) lebih bukan untuk mengajar, ya mungkin dipakai ( juga untuk mengajar). Tapi ada juga yang sebagian besar suruh ini itu, suruh cari sendok plastik, siapin foto itu kalau satu menit dua menit tidak dijawab dicaci maki, kok gini aja nggak bisa, kamu mampu nggak sih," lanjut Menkes Budi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia