Suara.com - Kondisi kualitas air di Indonesia masih memprihatinkan. Dari hasil Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) yang dilakukan Kemenkes 2020, ditemukan kalau 7 dari 10 rumah tangga masih mengonsumsi air minum yang terkontaminasi e-coli.
Bahkan, diketahui hanya 11,9 persen rumah tangga yang memiliki akses air bersih yang aman dikonsumsi. Sementara data BPS (2019) menemukan, 10 dari 34 provinsi di Indonesia masih memiliki kualitas air yang kurang baik karena adanya pencemaran.
Padahal, dengan mengonsumsi air yang tercemar sendiri bisa memberikan dampak yang tidak baik bagi kesehatan. Profesor Mikrobiologi Pangan Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Prof Dr. Ratih Dewanti Hariyadi mengatakan, mengonsumsi air yang tercemar akan memengaruhi produktivitas seseorang.
“Mengonsumsi air minum dengan kualitas yang tidak baik dapat memberikan dampak jangka panjang maupun pendek. Mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri ataupun virus dapat menyebabkan berbagai penyakit hingga menurunkan produktivitas,” jelas Prof. Ratih dalam rilis ‘Tidak Semua Air Sama’ dari Danone yang diterima Suara.com, Senin (7/8/2023).
Penting untuk diketahui, mengonsumsi air minum yang tercemar dapat memberikan berbagai dampak negatif di antaranya:
Air minum yang tercemar bakteri dan kotoran manusia (e-coli dan koli form) dapat menyebabkan diare. Bahkan, hal ini juga yang menjadi penyebab kematian pada balita.
Cemaran seperti logam berat timbal pada air bisa menyebabkan gangguan pada kehamilan. Hal ini bisa membuat bayi lahir dengan berat badan rendah. Selain itu, konsumsi air yang tercemar logam berat juga sebabkan gangguan perkembangan saraf pada janin dan anak. Tidak hanya itu konsumsi air tercemar juga bisa sebabkan gangguan ginjal dan masalah pencernaan.
Sementara itu, sumber air yang digunakan masyarakat Indonesia juga beragam mulai dari air dalam kemasan (11 persen), ledeng (13,1 persen), sumur pompa (14,1 persen), sumur terlindungi (16 persen), hingga air isi ulang (31,1 persen).
Lantas bagaimana cara mengetahui air minum yang layak konsumsi? Berdasarkan Permenkes No. 492 tahun 2010, Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum dikatakan, air yang dikonsumsi masyarakat wajib memenuhi 4 kriteria di antaranya:
Baca Juga: Hanya Berjarak 10 Km dari Pusat Kota Situbondo, Dusun Ini Punya Masalah Berulang Setiap Kemarau
- Tidak berbau
- Tidak berasa
- Tidak berwarna
- Hingga bebas dari kontaminan
Oleh sebab itu, masyarakat harus bisa sadar untuk mengetahui berbagai ciri air yang layak dikonsumsi. Prof. Ratih menuturkan, alasan pentingnya mengonsumsi air kualitas baik ini karena akan berpengaruh pada kesehatan di masa depan.
“Tubuh manusia ini terdiri atas 60 sampai 70 persen air, sehingga sangat penting untuk mengonsumsi air dengan kualitas baik sebagai investasi kesehatan di masa depan,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?