Suara.com - Pasien tuberkulosis (TB) bisa sembuh total asalkan menjalani pengobatan hingga tuntas dan minum obat secara rutin selama kurang lebih enam bulan. Dokter spesialis paru Dr. dr. Erlina Burhan, Sp.P(K)., menjelaskan bahwa ada risiko yang harus ditanggung pasien TB bila pengobatannya tidak tuntas atau dilakukan dengan tidak benar.
Sayangnya, diakui oleh dokter Erlina kalau masih banyak pasien TB di Indonesia yang tidak menyelesaikan pengobatan hingga selesai. Ada beberapa alasan yang menyebabkan hal itu terjadi.
"Peengobatan TB biasanya kalau sudah 1 bulan, 2 bulan, dan jumlah kumannya mulai sedikit, keluhan itu mulai gak ada, demam sudah gak ada, batuk juga mulai berkurang malah berkurang, nafsu makan tadinya hilang jadi bagus berat badan kembali naik, gak ada lagi lemah, letih, lesu, lelah. Jadi kemudian banyak pasien, karena kurang pemahamannya, menghentikan sendiri pengobatannya. Padahal kuman masih ada," tutur dokter Erlina saat konferensi pers virtual, Senin (25/3/2024).
Meski gejala sudah terasa mereda, dokter Erlina menegaskan kalau kuman penyebab TB, yakni Mycobacterium Tuberculosis, masih ada di dalam tubuh. Apabila konsumsi obat dihentikan sebelum waktunya, maka kuman justru punya kesempatan untuk kembali berkembang biak.
"Lama-lama kuman yang tadinya sedikit menjadi banyak kembali karena berkembang biak dan menimbulkan lagi kerusakan. Ini kita sebut sebagai kekambuhan," kata dokter Erlina.
Bosan juga kerap jadi alasan pasien TB berhenti konsumsi obatnya. Lantaran pengobatan harus dilakukan selama berbulan-bulan, namun baru bulan ke 3 atau 4 pasien biasanya sudah bosan dan memutuskan berhenti sendiri tanpa memberitahu dokternya.
Dokter Erlina menyampaikan bahwa bakteri Mycobacterium Tuberculosis pada pasien TB jumlahnya bisa sangat banyak di dalam tubuh. Itu sebabnya, pengobatan berlangsung lama.
"Kalau pasien TB paru sekali bersin yang keluar bisa 1 juta kuman. Dan kuman ini tidak terlihat oleh mata, kecil sekali ukurannya dan tidak punya daya berat, melayang-layang di udara, maka berpotensi orang lain menghirup udara yang terkontamimasi dengan kuman TB. Kalau batuk juga keluar, tapi paling banyak memang saat bersin. Bahkan kalau di saluran nafas banyak kuman, bicara saja bisa keluar kumannya," ujarnya.
Baca Juga: Trik Rahasia Hilangkan Goresan Mobil Sendiri, Hemat dan Gampang!
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik