Suara.com - Hipertensi hingga kini masih jadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, meski demikian banyak masyarakat kerap menganggap remeh penyakit tersebut. Padahal jika diabaikan bisa menyebabkan komplikasi hipertensi penyakit berbahaya.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Cibubur, dr. Gerald Toreh, SpPD-FINASIM mengatakan hipertensi merupakan silent killer atau pembunuh diam-diam, karena penderitanya tidak merasakan gejala apapun.
"Dalam beberapa kasus, penderita baru mengetahuinya setelah terjadi komplikasi," ujar dr. Gerald melalui keterangan yang diterima suara.com, Senin (20/5/2024).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi kronis di mana tekanan darah pada dinding arteri meningkat. Lantaran tidak bergejala tapi berbahaya, dr. Gerald lantas mengingatkan agar tidak terjadi komplikasi penting untuk memeriksa tekanan diri secara rutin. Tekanan darah dikatakan normal jika berada di kisaran 140/90 mmHg.
"Melakukan pemantauan rutin akan membantu Anda, mengidentifikasi peningkatan tekanan darah sebelum menjadi masalah serius, menilai efektivitas perubahan gaya hidup atau pengobatan yang sedang dijalani, mencegah komplikasi yang lebih parah dengan intervensi yang tepat waktu," ujar dr. Gerald.
Adapun jika hipertensi terjadi terus menerus tapi tidak dilakukan penanganan, maka bisa terjadi komplikasi. Ini karena tingginya tekanan darah di dinding arteri bisa menganggu kinerja organ tubuh. Beberapa komplikasi hipertensi serius di antaranya sebagai berikut:
- Penyakit jantung koroner, ini karena hipertensi dapat merusak arteri, meningkatkan risiko serangan jantung.
- Stroke, kondisi ini terjadi karena tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak atau menghambat aliran darah, menyebabkan stroke.
- Gagal ginjal karena saat tekanan darah meningkat di pembuluh darah ginjal maka akan memicu kerusakan hijgga dapat menyebabkan gagal ginjal.
- Aneurisma, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pembuluh darah melemah dan menggembung, yang dapat berakibat fatal jika pecah.
- Kerusakan mata bisa juga dialami bila seseorang mengalami hipertensi, karena kondisi tersebut merusak pembuluh darah di retina, yang pada akhirnya terancam kehilangan penglihatan.
Perlu diketahui, menurut World Health Organization (WHO), setiap tahunnya sekitar 7,5 juta orang meninggal akibat komplikasi hipertensi.
Sedangkan di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dan studi kohor penyakit tidak menular (PTM) 2011-2021, hipertensi merupakan faktor risiko tertinggi penyebab kematian keempat dengan persentase 10,2 persen.
Data SKI 2023 menunjukkan bahwa 59,1 persen penyebab disabilitas gangguan penglihatan, pendengaran dan kemampuan berjalan pada penduduk berusia 15 tahun ke atas adalah penyakit yang didapat, di mana 53,5 persen penyakit tersebut adalah PTM, terutama hipertensi dengan angka mencapai 22,2 persen.
Baca Juga: 63 Persen Petugas KPPS Punya Risiko Hipertensi, Ungkap BPJS Kesehatan
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!