Suara.com - Baru-baru ini viral Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Hasto Wardoyo membuat target satu pasangan suami istri, minimal melahirkan satu anak perempuan. Langkah ini dilakukan sebagai solusi turunnya angka kelahiran di Indonesia.
Menanggapi ini, Peneliti sekaligus Ketua Health Collaborative (HCC) Dr.dr.Ray Wagiu Basrowi mengakui, melahirkan anak perempuan bisa jadi salah satu cara untuk mengatasi krisis populasi yang diduga mengancam Indonesia.
Namun alih-alih berfokus pada kuantitas, Dr. Ray mengingatkan pemerintah untuk tidak melulu berfokus pada kuantitas atau jumlah manusia. Kata dia, solusi mengatasi krisis populasi harus dibarengi sistem kesehatan negara yang sepadan dengan jumlah penduduk.
"Memang melahirkan anak perempuan untuk solusi krisis populasi itu akan bagus untuk meningkatkan jumlah populasi. Tetapi tidak boleh hanya memikirkan kuantitas, harus dibarengi dengan sistem kesehatan dan yang menunjang kesehatan reproduksi dan kesehatan mental. Ada berapa banyak angka kematian ibu di Indonesia? Masih sangat tinggi," ujar Dr. Ray ditemui suara.com di Senayan, Jakarta Selatan, Senin (1/7/2024).
Dokter yang juga Dosen Program Magister Kedokteran Kerja di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu mengingatkan, target mempertahankan jumlah penduduk ini juga harus dibarengi dengan membuat prioritas kesehatan reproduksi di Indonesia lebih baik.
Contohnya dengan kebijakan kesehatan ibu dan anak (KIA), keluarga berencana (KB), kesehatan reproduksi remaja (KRR) dan penanggulangan penyakit menular seksual (PKMS) secara praktik di masyarakat harus diterapkan dengan tegas.
Sayangnya, saat ini meski cuti melahirkan 6 bulan sudah disahkan. Tapi praktiknya tidak semua ibu pekerja yang berhak mendapatkannya, karena hanya berdasarkan kondisi medis dan darurat saja. Ditambah cuti melahirkan untuk suami juga maksimal 5 hari tapi dengan kesepakatan tertentu.
"Jadi punya anak perempuan dengan sistem kesehatan reproduksi itu justru kontra produktif," papar Dr. Ray.
Ia juga menambahkan, perempuan Indonesia juga masih dibayangi dengan kondisi pendarahan saat proses persalinan, dan tidak jarang dalam kondisi ini banyak perempuan meregang nyawa.
Baca Juga: 42 Balita Keracunan Makanan Pencegah Stunting di Sulbar, Kepala BKKBN Minta Pemda Libatkan Ahli Gizi
"Selain itu, ada begitu banyak anak perempuan yang lahir kemudian ketika mereka harus melahirkan terkena HPP atau postpartum hemorrhage (pendarahan setelah melahirkan) lalu infeksi dan melahirkan anak perempuan yang prematur, stunting atau anemia," ungkapnya.
"Jadi solusinya adalah kita bisa saja melahirkan lebih banyak anak perempuan untuk keberlanjutan populasi di Indonesia tapi harus di barengi dengan kemapanan kesehatan reproduksi dan kesehatan perempuan Indonesia," pungkas Dr. Ray.
BKKBN target pasutri minimal lahirkan satu anak perempuan
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo Wardoyo menyebut angka kelahiran atau fertility rate di Indonesia menurun. Penurunan mencapai angka ideal alias minimal yakni 2,18, sehingga ia menargetkan agar setiap pasangan suami istri melahirkan paling tidak satu anak perempuan.
"Kami punya target 1 perempuan rata-rata melahirkan 1 anak perempuan. Oleh karena itu BKKBN menargetkan anaknya kalau bisa 2,1 jangan hanya 2. Karena kalau anaknya dua lebih sedikit maka hampir dipastikan 1 perempuan akan melahirkan anak 1 perempuan," kata Hasto di Semarang beberapa waktu lalu.
Dia mengakui penurunan itu mencapai angka ideal (minimal) karena dua anak yang dilahirkan akan menggantikan orang tuanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?