Suara.com - Musim hujan masih terjadi di beberapa tempat, terutama di sebagian Pulau Jawa. Hujan dapat mendatangkan berbagai penyakit, salah satunya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) pada anak-anak hingga orang dewasa. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Menurut informasi idikabblora.org, demam berdarah pada anak, atau Demam Berdarah Dengue (DBD), adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina dari jenis Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD adalah masalah kesehatan yang serius, terutama di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, dan dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik.
IDI Kabupaten Blora adalah organisasi kesehatan yang terdiri dari dokter yang berpraktek di wilayah tersebut. IDI Blora diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan di daerah. IDI Kabupaten Blora melakukan penelitian lebih lanjut mengenai gejala dan penyebab terjadinya gejala demam berdarah pada anak. Kemudian memberikan informasi seputar rekomendasi obat untuk mengatasi gejala demam berdarah.
Apa saja gejala terjadinya penyakit demam berdarah pada anak?
Dilansir dari laman https://idikabblora.org, Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue, ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Berikut adalah penyebab dan ciri-ciri seseorang yang menderita penyakit DBD meliputi:
1. Kondisi imun yang belum matang
Penelitian yang dilakukan IDI, menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia lima belas tahun memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya berkembang, sehingga mereka lebih rentan terhadap infeksi virus dengue.
2. Paparan dan gigitan nyamuk
Anak-anak yang digigit oleh nyamuk yang terinfeksi virus dengue berisiko tinggi untuk mengembangkan DBD. Nyamuk ini biasanya aktif menggigit pada pagi dan sore hari.
3. Pernah terinfeksi DBD
Orang yang pernah terkena demam dengue sebelumnya memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi lagi. Virus dengue memiliki empat serotipe, dan infeksi sebelumnya tidak memberikan kekebalan terhadap serotipe lain.
4. Kurangnya pengetahuan dan tindakan pencegahan
Anak-anak sering kali tidak menyadari pentingnya tindakan pencegahan seperti menggunakan obat anti-nyamuk atau mengenakan pakaian pelindung. Kurangnya pemahaman ini dapat meningkatkan risiko demam berdarah bagi mereka.
Baca Juga: Usia Anak Boleh Bermedia Sosial Menurut Psikolog, Ini Penjelasannya
5. Faktor lingkungan
Selain itu, tinggal di lingkungan tropis dapat meningkatkan risiko penularan demam berdarah karena nyamuk dapat berkembang biak dengan cepat karena cuaca yang lembap dan hangat.
Apa saja obat yang direkomendasikan terhadap penyakit demam berdarah pada anak?
Penderita demam berdarah, terutama anak-anak, memerlukan perawatan yang tepat untuk meredakan gejala dan mendukung pemulihan. Berikut adalah beberapa obat yang direkomendasikan untuk mengatasi demam berdarah pada anak meliputi:
1. Obat Paracetamol
Paracetamol dapat meredakan demam, nyeri otot, dan sakit kepala. Paracetamol adalah pilihan utama untuk mengurangi demam pada pasien DBD.
2. Obat Domperidone
Domperidone adalah salah satu obat yang digunakan untuk meredakan muntah dan mual yang sering terjadi bersamaan dengan demam berdarah. Obat ini mempercepat proses pencernaan dan mengurangi rasa mual.
3. Obat Kalnex
Obat ini membantu mengurangi perdarahan. Kalnex 500 Mg 10 Tablet bekerja dengan menghentikan bekuan darah yang sudah terbentuk saat perdarahan hancur.
Ini mencegah perdarahan berlanjut.
Berita Terkait
-
Usia Anak Boleh Bermedia Sosial Menurut Psikolog, Ini Penjelasannya
-
Tanggal 11 Desember Diperingati HUT UNICEF, Sosok Ludwik Rajchman Punya Peran Penting
-
Beda Karier Didit Hediprasetyo dan Pinka Haprani, Anak Prabowo dan Puan Diisukan Ada Hubungan Khusus?
-
ABG Pembunuh Ayah-Nenek di Lebak Bulus Tulis Surat, Isinya Menyentuh: Maafin Aku Udah Nyusahin...
-
Terungkap! Anak Bunuh Ayah-Nenek di Cilandak Sempat Dibawa Ibu ke Psikiater
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia