Keunggulan dari teknologi ablasi ini adalah jangkauan pasiennya yang luas. Prosedur ini dapat diterapkan mulai dari anak-anak hingga pasien lanjut usia.
"Pasien yang dapat menjalani prosedur ablasi bervariasi, mulai dari anak-anak hingga lansia. Di RS Siloam TB Simatupang, prosedur ablasi bisa dilakukan pada anak berusia 5 tahun hingga pasien berusia lebih dari 70 tahun,” jelas dr. Dony.
Ia juga menekankan bahwa meskipun aman, ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.
Salah satu di antaranya adalah risiko kerusakan pada jalur utama sistem kelistrikan jantung jika lokasi jaringan yang harus dihancurkan terlalu dekat dengan area tersebut.
Bila itu terjadi, dokter mungkin perlu memasang alat pacu jantung untuk mengatur denyut jantung secara normal.
Selain itu, risiko lain yang bersifat lokal, seperti pembengkakan di area pangkal paha tempat kateter dimasukkan, juga bisa terjadi pasca prosedur.
Deteksi Dini dan Penanganan Cepat Kunci Keselamatan
SVT ditandai oleh denyut jantung sangat cepat, biasanya lebih dari 150 denyut per menit. Dalam beberapa kasus ekstrem, denyut bisa mencapai hingga 300 bpm, yang sangat berbahaya dan dapat memicu kematian mendadak.
“Detak jantung yang cepat secara tiba-tiba saat sedang beristirahat atau duduk tenang harus diwaspadai,” tegas dr. Dony.
Baca Juga: Waspada! Ini Kebiasaan yang Bisa Menyebabkan Kerusakan Jantung
Ia pun memberikan panduan sederhana untuk memantau detak jantung secara mandiri.
Caranya, cukup dengan meletakkan jari di nadi pergelangan tangan, menghitung denyut selama 15 detik, lalu mengalikannya dengan empat.
Adapun kisaran detak jantung normal bervariasi tergantung usia. Mulai dari 100-160 bpm untuk bayi baru lahir, hingga 60-100 bpm untuk remaja dan dewasa.
Sementara untuk usia 60 tahun ke atas, detak jantung normal berkisar antara 80-130 bpm.
Penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala dan memahami bahaya SVT. Kemajuan teknologi seperti ablasi berbasis 3D memberikan harapan baru yang lebih aman dan efektif bagi para penderita.
Dengan deteksi dini dan tindakan medis tepat waktu, kualitas hidup pasien dengan SVT bisa meningkat signifikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS