Suara.com - Dampak buruk polusi plastik dalam kehidupan kita semakin mengkhawatirkan. Tak hanya masuk ke tubuh manusia, plastik juga bisa terserap oleh bakteri yang meningkatkan keganasannya.
Sebuah penelitian terbaru dari University of Illinois Urbana-Champaign mengungkap partikel plastik berukuran nano, dikenal sebagai nanoplastik, tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga memperparah risiko kesehatan manusia, terutama melalui peningkatan keganasan bakteri patogen penyebab keracunan makanan.
Apa Itu Nanoplastik?
Nanoplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil, biasanya di bawah 1.000 nanometer (nm) atau 1 mikrometer. Mereka dapat terbentuk dari degradasi plastik yang lebih besar atau diproduksi secara langsung dalam produk industri.
Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini menyebar luas ke dalam lingkungan, masuk ke rantai makanan, dan bahkan menembus jaringan tubuh makhluk hidup.
Menurut studi yang dimuat dalam jurnal Nature Nanotechnology (2019), nanoplastik telah ditemukan dalam air minum, makanan laut, tanah, dan bahkan udara. Karena ukurannya yang mikroskopis, partikel ini dapat berinteraksi langsung dengan sel dan mikroorganisme, menyebabkan stres oksidatif, peradangan, dan potensi gangguan sistem kekebalan tubuh.
Interaksi Nanoplastik dan E. coli
Dalam studi yang dipimpin Prof. Pratik Banerjee, tim peneliti menciptakan nanoplastik dari polystyrene, bahan yang sama dengan wadah makanan putih sekali pakai, dan memberikan muatan positif, netral, serta negatif pada permukaannya.
Mereka menemukan bahwa nanoplastik bermuatan positif memicu stres fisiologis pada E. coli O157:H7, yang menyebabkan peningkatan produksi racun Shiga-like—zat toksik utama yang menyebabkan penyakit parah pada manusia.
Baca Juga: Lagi Cari Suami, Alasan Denada Kembali Operasi Plastik di Bagian Ini
Escherichia coli (E. coli) adalah bakteri yang secara alami hidup di usus manusia dan hewan berdarah panas. Sebagian besar strain E. coli tidak berbahaya dan bahkan membantu pencernaan. Namun, beberapa strain, seperti E. coli O157:H7, sangat berbahaya dan dapat menyebabkan diare berdarah, gagal ginjal, hingga kematian, terutama pada anak kecil dan lansia.
Strain ini biasanya menyebar melalui konsumsi daging yang kurang matang, sayuran mentah yang terkontaminasi, atau air minum yang tercemar. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyebut E. coli O157:H7 sebagai penyebab utama wabah keracunan makanan di berbagai negara.
“Bakteri yang stres menjadi lebih ganas,” jelas Banerjee. “Ini pertama kalinya kami bisa tunjukkan bahwa partikel plastik dapat memperparah karakteristik patogen dari bakteri penyebab keracunan makanan.”
Tak hanya mempengaruhi bakteri bebas, nanoplastik bermuatan positif juga terbukti tetap berbahaya bahkan saat bakteri membentuk biofilm—lapisan pelindung yang biasanya membuat mereka lebih resisten terhadap gangguan lingkungan dan antibiotik.
Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan potensi terjadinya transfer gen resistensi antibiotik antar bakteri melalui interaksi dengan plastik, memperbesar risiko munculnya superbug yang sulit diobati.
Solusi Berbasis Ilmu dan Kolaborasi
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!