Alat catok, pengering rambut dengan suhu maksimal, serta proses kimia seperti bleaching, smoothing, atau pewarnaan memang bisa menunjang penampilan secara instan. Namun, panas yang berlebihan merusak lapisan pelindung rambut (kutikula) dan membuatnya rapuh.
Bahan kimia keras dapat merusak struktur protein rambut dan mengiritasi kulit kepala. Gunakan alat penata rambut seperlunya dengan suhu rendah dan selalu aplikasikan heat protectant spray sebelumnya.
5. Perlakukan Rambut Seperti Kain Sutra, Bukan Keset
Kebiasaan sepele bisa berdampak besar. Menggosok rambut yang basah dengan handuk secara kasar dapat menyebabkan kerusakan dan patah. Menyisir rambut saat masih basah kuyup juga merupakan kesalahan besar, karena saat itulah rambut berada dalam kondisi paling rentan.
Cara Benar: Keringkan rambut dengan menepuk-nepuknya perlahan menggunakan handuk mikrofiber. Gunakan sisir bergigi jarang untuk mengurai kekusutan, mulailah dari ujung rambut lalu naik perlahan ke akar.
6. Pilih "Skincare" yang Tepat untuk Kulit Kepala
Kulit kepala adalah tanah tempat rambut Anda tumbuh. Jika tanahnya tidak sehat, tanamannya pun tidak akan subur. Hindari sampo dengan kandungan deterjen keras seperti sulfat (SLS/SLES) jika kulit kepala Anda sensitif.
Pilihlah produk yang sesuai dengan kondisi kulit kepala Anda, apakah itu berminyak, kering, atau rentan berketombe. Lakukan pijatan lembut saat keramas untuk melancarkan sirkulasi darah.
7. Jangan Jadi Dokter untuk Diri Sendiri
Baca Juga: Masih Muda Rambut Mulai Botak? Begini Cara Mencegah dan Mengatasinya
Jika kerontokan rambut Anda sudah terasa parah dan tidak membaik setelah mengubah gaya hidup, jangan tunda untuk mencari bantuan profesional. Kunjungi dokter kulit atau ahli trikologi (trichologist).
Mereka dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui akar masalahnya, apakah itu karena faktor hormonal (seperti DHT pada pria), kondisi autoimun, atau kekurangan nutrisi yang parah.
Penanganan medis seperti penggunaan minoxidil, finasteride, atau terapi PRP mungkin diperlukan, dan itu hanya bisa didapatkan melalui resep dan pengawasan dokter.
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem