- Ketua Komisi IV DPR RI mengajak masyarakat meningkatkan budaya konsumsi ikan.
- Titiek Soeharto menyatakan isu pencemaran ikan laut tidak ada, menyarankan variasi masakan daerah untuk menumbuhkan minat makan ikan.
- Riset ilmiah menunjukkan ikan laut seperti Todak dan Tuna Sirip Biru terkontaminasi merkuri serta mikroplastik.
Suara.com - Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, mengajak masyarakat Indonesia untuk meningkatkan budaya mengonsumsi ikan.
“Untuk pencemaran (ikan laut), saya rasa itu isu nggak ada, ya. Yang penting kita harus meningkatkan budaya untuk makan ikan,” ujar Titiek, di Jakarta, Minggu (23/11/2025).
Titiek mengajak semua elemen masyarakat mempromosikan keunggulan ikan, yang dinilai sangat bergizi dan berperan penting dalam meningkatkan kecerdasan anak.
Ia juga menyinggung kemudahan mendapatkan ikan dibandingkan hewan ternak lain.
"Ikan itu kan tinggal ngambil di laut, nggak usah pelihara kayak ayam gitu berbulan-bulan. Tinggal ambil,” katanya,
Ia menyarankan agar masyarakat memvariasikan masakan ikan sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing agar minat makan ikan tumbuh.
Fakta Ilmiah: Ikan Laut Tidak Sepenuhnya Bebas Kontaminan
Meskipun imbauan untuk mengonsumsi ikan sangat penting dari segi gizi, bantahan politisi bahwa tidak ada isu pencemaran bertolak belakang dengan sejumlah penelitian terkini mengenai kualitas biota laut.
Riset yang dilakukan oleh berbagai lembaga, termasuk New York State Department of Health hingga universitas dalam negeri, menunjukkan bahwa beberapa jenis ikan laut tidak luput dari ancaman kontaminasi berat.
Baca Juga: KKP Amankan Kapal Ikan Asing Ilegal di Perairan Natuna
Ikan yang Tercemar Tinggi:
Ikan Todak (Swordfish): Dikenal memiliki kadar merkuri yang signifikan.
Ikan Tenggiri Raja (King Mackerel) dan Tuna Sirip Biru (Bluefin Tuna): Jenis-jenis tuna dan tenggiri predator besar ini memiliki konsentrasi merkuri yang tinggi.
Ikan Marlin, Orange Roughy, dan Tilefish (terutama dari Teluk Meksiko): Termasuk dalam daftar ikan dengan kandungan merkuri tinggi yang perlu diwaspadai, yang juga mempengaruhi ikan umum seperti tuna dan tongkol.
Pencemaran ini terjadi mayoritas karena ulah manusia yang memicu bioakumulasi kontaminan di lingkungan laut, yakni:
- Merkuri: Sebagian besar merkuri di laut berasal dari emisi industri, terutama dari pembangkit listrik tenaga batu bara, pabrik produksi klorin, dan penambangan liar (misalnya di sekitar Ambon dan Gorontalo). Logam berat ini mengalami biomagnifikasi, terakumulasi dalam jaringan hidup ikan predator besar yang memakan ikan kecil yang terkontaminasi.
- Mikroplastik: Sampah plastik yang dibuang dari darat terfragmentasi menjadi partikel mikroplastik yang dapat tertelan oleh biota laut. Partikel ini membawa serta zat kimia berbahaya yang menempel di permukaannya dan masuk ke dalam rantai makanan manusia.
- Limbah Industri Lainnya: Pembuangan langsung limbah industri dan pertanian yang mengandung logam berat (seperti kadmium, timbal), serta bahan kimia berbahaya (PCB, dioksin, pestisida) secara langsung mencemari perairan.
Namun demikian, ada pula jenis-jenis ikan yang berpotensi rendah terkena cemaran karena umur hidup yang singkat dan habitat yang lebih selektif.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
Terkini
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar